Harga Emas Hari Ini: Dolar AS Menguat, Emas Turun di Bawah $4.050
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Jumat setelah dolar AS kembali menguat, sehingga memangkas sebagian reli emas batangan yang terjadi setelah hasil pemilu sela Amerika Serikat. Meski mengalami koreksi, harga emas masih mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang pekan ini, didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan fiskal pemerintah AS.
Pada pukul 13.24 WIB, harga emas spot turun 1% ke level US$4.048,97 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka (futures) emas AS melemah 1,4% menjadi US$4.057,95 per ons.
Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 0,5% menjadi US$51,5215 per ons, sedangkan platinum terkoreksi 0,6% ke US$1.510,78. Paladium spot melemah 0,9% ke US$1.025,70, sementara futures paladium turun 0,8% menjadi US$1.025,25 per ons.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) menguat 0,2% ke level 101,80, memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Reli Emas Lebih dari 5% Sepanjang Pekan
Harga emas telah melonjak lebih dari 5% sepanjang pekan ini setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela AS mendorong pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil Treasury.
Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko koreksi. Emas masih berpotensi menghadapi tekanan likuidasi ketika investor menjual aset untuk menutupi kerugian di pasar saham.
Setelah mencatatkan reli kuat dan sempat diperdagangkan di sekitar US$4.090 per ons, emas kembali melemah seiring berlanjutnya tekanan terhadap saham-saham teknologi AS. Sektor teknologi bahkan mencatatkan penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut pada perdagangan Jumat.
Tekanan di pasar saham dipicu oleh kekhawatiran bahwa dominasi Partai Demokrat di Kongres AS dapat meningkatkan pengawasan regulasi terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran tersebut semakin besar di tengah meningkatnya penolakan masyarakat terhadap ekspansi pembangunan pusat data.
Penurunan Imbal Hasil Treasury Dukung Emas
Meningkatnya ketidakpastian di pasar saham turut mendorong investor mencari aset yang lebih aman, termasuk obligasi Treasury AS. Permintaan terhadap obligasi pemerintah tersebut menyebabkan imbal hasil Treasury turun ke level terendah sejak awal September.
Kondisi ini secara teoritis memberikan dukungan bagi emas karena penurunan imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan bunga seperti emas.
Namun, penguatan kembali dolar AS membatasi potensi kenaikan harga emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS.
Analis ANZ menilai bahwa ekspektasi terhadap kebijakan fiskal yang lebih ketat di bawah Kongres yang dikuasai Partai Demokrat turut memberikan tekanan terhadap imbal hasil Treasury.
Meski demikian, mereka menilai pengurangan pinjaman pemerintah AS juga berpotensi mengurangi salah satu sumber permintaan terhadap emas.
Pembelian Bank Sentral Tetap Menjadi Penopang Emas
Di tengah volatilitas pasar keuangan, permintaan fisik terhadap emas masih menunjukkan kekuatan. Salah satu faktor utama yang menopang prospek jangka panjang logam mulia ini adalah pembelian berkelanjutan dari bank sentral dunia.
Analis ANZ mencatat bahwa bank-bank sentral menambah cadangan emas bersih sebesar 321 ton pada kuartal ketiga. Jumlah tersebut menjadi laju pembelian tercepat sejak akhir 2024.
Permintaan institusional yang kuat ini didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik serta kekhawatiran terhadap disiplin fiskal pemerintah, sehingga emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai strategis.
Nonfarm Payrolls AS Jadi Fokus Pasar
Selanjutnya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada hari Jumat.
Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus memberikan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Apabila data ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar berpotensi meningkat dan memberikan dukungan bagi emas. Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih kuat dapat memperkuat dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap harga emas.
Dengan demikian, meskipun reli emas sepanjang pekan ini masih cukup solid, penguatan dolar AS dan potensi aksi likuidasi di pasar saham menjadi risiko jangka pendek yang perlu diperhatikan investor.






