Kumpulan Broker Internasional, Broker dengan Cashback Rebate 90% dari komisi kami sebagai IB, 90% Rebate terbesar di Indonesia


    REBATE BROKER INDONESIA

Master IB Broker pemberi cashback rebate Terbesar di Indonesia

www.rebatebrokerindonesia.com adalah Master IB Brokers di banyak Brokers seperti :
XM, Exness, Justmarkets, Tickmill dan HFM
Setelah mendaftar di IB kami wajib mengisi form verifikasi Rebate agar kami bisa melakukan pengecekan akun anda : Verifikasi Rebate Brokers
==========================================================

Legality Auto Rebate International


MASTER IB Brokers
  • Apa itu Auto Rebate Brokers?

    Auto Rebate Brokers adalah Rebate/cashback dari pengembalian spread yang otomatis ditransfer oleh pihak Broker ke Akun Trading / Dompet / Wallet anda dengan syarat anda harus mendaftar dengan Link atau kode IB partners kami, agar kami bisa mensetting 90% Rebate ke Anda

    Apakah Kondisi Perdagangan tetap sama?

    Kami menjamin bahwa semua komisi, spread, dan ketentuan perdagangan tetap sama.

    Apakah gratis untuk mengikuti program cashback / rebate?

    Ya, program ini gratis hanya dengan bergabung melalui IB kami. Lebih lanjut, kami akan membayar Anda dengan mengembalikan komisi kami 90% ke anda untuk setiap transaksi trading Anda.

    Bagaimana saya akan menerima Rebate saya?

    Rebate otomatis ditransfer ke akun trading (Exness, HFM, Justmarkets, Tickmill) atau Dompet/wallet ( XM). Setelah itu, Anda dapat menarik uang rebate dengan semua metode yang disediakan oleh Broker pilihan anda.

    saya sudah memiliki akun, apakah saya bisa pindah IB untuk mendapatkan rebate?

    Tentu saja bisa, panduannya bisa anda klik link dibawah

    - Pindah IB XM Click Here

    - Pindah IB Exness Click Here

    - Pindah IB Justmarkets Click Here

    - Pindah IB HFM Click Here

    - Pindah IB Tickmill Click Here

Emas Uji Support Psikologis

 

Gold

Penggerak Pasar

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melanjutkan penurunan pada perdagangan Kamis dan kembali berada di bawah level 5% untuk pertama kalinya sejak kenaikan yang dimulai pada 23 September 2026. Setelah sempat menyentuh puncak 5,365% pada 7 Oktober 2026, imbal hasil tersebut kini turun ke sekitar 4,966%. Pada saat yang sama, dolar AS melanjutkan pelemahan untuk hari keenam berturut-turut.

Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong kenaikan harga emas. Logam mulia justru kembali tertekan dan ditutup lebih rendah dibandingkan sesi sebelumnya, di sekitar level US$4.024.

Secara umum, penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS seharusnya memberikan dukungan bagi emas. Akan tetapi, kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran terhadap inflasi sehingga potensi penguatan emas masih tertahan. Di sisi lain, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan depan telah turun menjadi sekitar 7%.

Yield di Bawah 5%, Geopolitik Membayangi

Secara teori, penurunan imbal hasil obligasi AS cenderung melemahkan dolar dan mendukung kenaikan harga emas. Namun, hubungan tersebut belum terlihat secara optimal karena pasar masih menghadapi ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi.

Di tengah kondisi tersebut, minat beli terhadap obligasi pemerintah AS jangka menengah mulai terlihat. Investor tampaknya berupaya mencari aset yang relatif aman sembari mengevaluasi kembali prospek pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter.

Obligasi pemerintah AS masih menjadi salah satu tujuan pelarian modal, sedangkan emas belum memperoleh dukungan optimal karena kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed masih membayangi pasar.

Kendati demikian, berkurangnya probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober menjadi perkembangan positif bagi emas. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan berakhir pada 28 Oktober 2026 telah turun menjadi sekitar 7%, sehingga pasar semakin memperhitungkan kemungkinan suku bunga dipertahankan.

Meski begitu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di sekitar 78%. Ekspektasi tersebut berkaitan dengan proyeksi pejabat The Fed dalam dot plot September serta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral pekan lalu yang mengindikasikan kemungkinan masih adanya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.

Di sisi lain, sekitar 22% probabilitas pasar menunjukkan bahwa The Fed diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga lagi sepanjang tahun ini. Perkembangan tersebut menjadi salah satu hal yang patut dicermati menjelang pertemuan pekan depan, terutama karena ketegangan geopolitik masih tinggi dan munculnya risiko serangan baru yang direncanakan AS dan Israel terhadap Iran berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi.

Sederhananya, eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak naik atau bertahan tinggi, meningkatkan tekanan inflasi, dan mempertahankan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Situasi ini berpotensi membebani harga emas dalam jangka pendek.

Sebaliknya, tercapainya perdamaian Rusia-Ukraina, meredanya ketegangan antara negara-negara Arab dan kelompok Houthi, atau tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS dapat mengurangi risiko geopolitik. Jika perkembangan tersebut mampu menekan harga energi dan meredakan kekhawatiran inflasi, peluang pemulihan emas berpotensi semakin terbuka.

Data Ekonomi AS Jadi Perhatian

Dari sisi ekonomi, pelaku pasar akan mencermati rilis data PMI sektor jasa dan manufaktur AS pada pukul 20.45 WIB, serta indeks sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi dari University of Michigan.

Data PMI diperkirakan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kondisi ekonomi AS dan prospek kebijakan moneter The Fed. Jika hasilnya lebih rendah dari perkiraan, kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga dapat mereda sehingga memberikan peluang bagi emas untuk menguat.

Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan kembali menekan harga emas.

Untuk saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS masih menjadi indikator penting dalam menentukan arah pergerakan emas menjelang pengumuman kebijakan The Fed pekan depan.

Jika imbal hasil obligasi melanjutkan penurunan, emas berpeluang memperoleh dukungan sehingga tekanan jual dapat mereda dan membuka kesempatan untuk rebound. Namun, apabila imbal hasil kembali berbalik naik, emas berisiko mengalami tekanan lanjutan. Dalam skenario tersebut, trader perlu mengevaluasi kembali strategi perdagangan, termasuk kemungkinan memanfaatkan peluang jual sesuai konfirmasi pergerakan harga.

Selain itu, perkembangan geopolitik perlu terus dipantau, terutama hubungan Iran-AS, ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Arab Saudi dan Houthi, serta perkembangan konflik Rusia-Ukraina.

Secara umum, terdapat dua skenario utama yang perlu diperhatikan trader:

  1. Eskalasi geopolitik: Konflik yang semakin memanas berpotensi mempertahankan kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dapat memperbesar peluang The Fed mempertahankan kebijakan ketat atau kembali menaikkan suku bunga, sehingga berpotensi memberikan tekanan negatif terhadap emas.

  2. Deeskalasi melalui negosiasi: Pembicaraan diplomatik dan mediasi yang semakin intens dapat membuka jalan bagi meredanya konflik. Jika tekanan harga energi berkurang, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi melemah dan membuka peluang bagi emas untuk rebound. Penolakan terhadap rencana serangan atau munculnya kesepakatan diplomatik juga dapat membantu memperbaiki sentimen pasar.

Analisis Teknikal Gold

Grafik Daily

Candlestick harian ditutup bearish setelah tekanan jual mendorong harga menembus ke bawah area 4066–4073 dan menyentuh level terendah sekitar 4021 pada sesi malam. Emas sempat mengalami rebound menuju area 4090, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Pada perdagangan pagi berikutnya, tekanan jual kembali membawa harga turun hingga sekitar 3986 sebelum akhirnya pulih ke area 4020–4024.

Secara teknikal, zona support pada grafik harian di kisaran 3959–4023 kini sedang diuji. Area tersebut menjadi zona penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.

Secara teori, pengujian zona support ini dapat memicu berkurangnya tekanan jual dan membuka peluang rebound. Namun, jika harga menembus ke bawah 3959 secara meyakinkan, risiko penurunan lanjutan akan meningkat dengan potensi mengarah ke area 3886, yang merupakan level terendah pada 28 Oktober 2025.

Untuk sementara, risiko geopolitik masih menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Sementara itu, penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi membantu membatasi tekanan jual agar tidak semakin dalam.

Dengan demikian, arah emas selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi pergerakan imbal hasil obligasi AS dan perkembangan geopolitik, khususnya apakah konflik akan kembali meningkat atau justru memasuki fase deeskalasi.

Grafik H4

Pada grafik H4, zona support berwarna merah muda di kisaran 4019–4049 telah ditembus. Tekanan jual kemudian meningkat dan sempat membawa harga turun dengan cepat hingga menyentuh 3986 pada sesi Asia.

Namun, penurunan tersebut berlangsung relatif singkat. Harga emas kembali memantul dan naik hingga sekitar 4024, mengindikasikan masih adanya minat beli di area harga yang lebih rendah.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa emas sedang berada dalam fase teknikal yang krusial. Sejumlah zona support psikologis perlu diperhatikan, terutama area 4000, kemudian 3959–3965 sebagai support terdekat berikutnya, serta 3886–3890 sebagai zona support yang lebih rendah.

Apabila permintaan mampu bertahan di sekitar area tersebut, emas berpeluang kembali bergerak di atas level psikologis 4000, sebagaimana terlihat pada pemulihan harga terakhir.

Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat dan harga menembus zona support secara meyakinkan, risiko penurunan lanjutan perlu diwaspadai.


Share:

Emas Tertekan Inflasi


Harga emas dunia (XAU/USD) masih menghadapi tekanan pada Kamis, 22 Oktober 2026, di tengah kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Setelah melemah dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya, emas masih kesulitan membangun momentum pemulihan. Investor kini mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pergerakan pasar obligasi, serta prospek kebijakan moneter AS menjelang pertemuan The Fed pada pekan depan.

Pergerakan Harga Emas Terbaru

Pada perdagangan terbaru, harga emas spot (XAU/USD) tercatat di US$4.121,27 per troy ounce, turun 0,1%. Sementara itu, harga emas berjangka AS berada di US$4.139,50.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga emas masih berada di bawah tekanan, meskipun ketidakpastian geopolitik berpotensi menopang permintaan terhadap aset safe haven.

Faktor Utama Penggerak Harga Emas

1. Kenaikan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Harga minyak Brent bertahan di atas US$110 per barel seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Risiko gangguan pasokan energi kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.

Kenaikan harga energi berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini dapat menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga daya tariknya dapat berkurang ketika instrumen berbunga menawarkan keuntungan yang lebih kompetitif.

2. Imbal Hasil Treasury AS Membatasi Pemulihan Emas

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga emas. Kenaikan yield meningkatkan daya tarik aset berbunga dan dapat menekan permintaan terhadap logam mulia.

Meskipun penurunan imbal hasil pada perdagangan sebelumnya sempat memberikan ruang bagi emas untuk pulih, tekanan dari kenaikan harga energi kembali membayangi prospek penguatan XAU/USD.

Selama imbal hasil Treasury dan dolar AS bertahan kuat, upaya emas untuk membangun momentum bullish berpotensi menghadapi hambatan.

3. Ketegangan Geopolitik Meningkatkan Volatilitas Pasar

Perkembangan situasi di Timur Tengah tetap menjadi perhatian investor, terutama setelah meningkatnya serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi dan munculnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak.

Secara historis, ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, dampaknya terhadap harga emas tidak selalu positif.

Dalam kondisi saat ini, kenaikan harga energi berpotensi memperburuk tekanan inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Faktor tersebut dapat mengimbangi permintaan safe haven dan membatasi potensi kenaikan harga emas.

4. Pasar Menantikan Pertemuan The Fed

Investor kini mengalihkan perhatian ke pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga, tetapi prospek kebijakan pada pertemuan Desember masih menjadi perhatian.

Selain keputusan suku bunga, data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pekan depan berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.

Jika data inflasi menunjukkan tekanan yang lebih kuat dari perkiraan, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat membuka peluang bagi emas untuk memulihkan momentum kenaikannya.

Analisis Teknikal XAU/USD

Berdasarkan level teknikal yang tercantum dalam laporan pasar 22 Oktober 2026, terdapat dua area penting yang perlu diperhatikan trader dalam memantau pergerakan XAU/USD.

Resistance terdekat: US$4.135

Jika harga emas mampu menembus resistance US$4.135, peluang pemulihan dapat terbuka menuju area US$4.150–US$4.169. Penembusan yang kuat di atas zona tersebut berpotensi memperbaiki prospek pergerakan jangka pendek.

Support utama: US$4.073

Sebaliknya, apabila harga menembus support US$4.073, risiko pelemahan lanjutan akan meningkat. Tekanan jual dapat bertambah apabila penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury terus berlanjut.

Level tersebut merupakan acuan indikatif berdasarkan laporan pasar, bukan kuotasi harga real-time.

Secara keseluruhan, bias teknikal jangka pendek XAU/USD masih cenderung bearish selama harga belum mampu menembus resistance terdekat. Meski demikian, perkembangan geopolitik, perubahan harga minyak, serta pergerakan imbal hasil obligasi AS dapat memicu volatilitas yang signifikan.

Prospek Harga Emas Selanjutnya

Harga emas dunia masih menghadapi tantangan dari kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi yang berpotensi membuat suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama. Penguatan dolar AS dan imbal hasil Treasury juga menjadi faktor yang dapat membatasi pemulihan XAU/USD.

Di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik tetap berpotensi mendukung permintaan emas sebagai aset safe haven. Karena itu, arah harga selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko geopolitik dan prospek kebijakan moneter AS.

Beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan investor meliputi:

  • Pergerakan harga minyak Brent yang bertahan di atas US$110 per barel.

  • Perubahan imbal hasil Treasury AS dan arah dolar AS.

  • Keputusan suku bunga The Fed pada 27–28 Oktober 2026.

  • Rilis data inflasi PCE AS pada pekan depan.

  • Respons harga XAU/USD terhadap support US$4.073 dan resistance US$4.135.

Dengan kombinasi faktor tersebut, trader perlu mencermati konfirmasi pergerakan harga sebelum menentukan arah transaksi, terutama menjelang agenda ekonomi penting dan keputusan The Fed.

Share:

Harga Emas Tertekan

 

Harga emas dunia (XAU/USD) kembali melemah pada Rabu, 21 Oktober 2026, dan mencatat penurunan selama empat sesi berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah, kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir tahun.

Di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, investor terus mencermati pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagai penentu arah harga emas selanjutnya. Kombinasi faktor tersebut membuat emas kesulitan mempertahankan momentum pemulihannya.

Harga Emas Dunia Hari Ini

Berdasarkan laporan Reuters pada pukul 09.10 GMT, harga emas spot (XAU/USD) turun 0,1% menjadi US$4.121,27 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember melemah 0,1% ke level US$4.139,50 per troy ounce.

Penurunan tersebut membawa harga emas ke level terendah sejak 15 Oktober 2026. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek inflasi dan kebijakan moneter AS.

Faktor Penggerak Harga Emas

1. Kenaikan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Harga minyak mentah Brent naik ke sekitar US$110,11 per barel seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Kenaikan harga minyak berisiko mendorong biaya energi dan transportasi, sehingga memperbesar tekanan inflasi. Kondisi ini dapat membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter.

Bagi emas, situasi tersebut menjadi tantangan karena kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dan mengurangi minat terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

2. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Membebani Emas

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan 27–28 Oktober 2026.

Namun, seluruh 100 ekonom yang berpartisipasi dalam survei tersebut memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada Desember. Ekspektasi ini menunjukkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter menjelang akhir tahun masih menjadi perhatian utama pasar.

Apabila prospek suku bunga tinggi semakin menguat, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi mendapatkan dukungan. Kondisi tersebut dapat membatasi potensi kenaikan XAU/USD dalam jangka pendek.

3. Ketegangan Geopolitik Menjaga Ketidakpastian Pasar

Perkembangan konflik di Timur Tengah dan risiko gangguan jalur pelayaran energi masih menjadi perhatian investor global.

Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian geopolitik dapat mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi memperburuk inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dinamika tersebut membuat respons harga emas menjadi lebih kompleks. Meskipun permintaan aset lindung nilai berpotensi meningkat, tekanan dari ekspektasi suku bunga dan pergerakan dolar AS masih dapat membatasi penguatan logam mulia.

Analisis Teknikal XAU/USD

Secara jangka pendek, pergerakan XAU/USD masih menunjukkan kecenderungan bearish setelah harga mencatat penurunan selama empat sesi berturut-turut. Tekanan jual berpotensi berlanjut apabila sentimen terhadap dolar AS dan prospek suku bunga tetap mendukung penguatan aset berbunga.

Berikut tiga skenario yang perlu diperhatikan:

  • Skenario bearish: Harga emas berisiko melanjutkan pelemahan apabila menembus area support terdekat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat.

  • Skenario rebound: XAU/USD berpeluang pulih apabila dolar AS dan imbal hasil Treasury melemah, terutama jika tekanan dari kenaikan harga minyak mulai mereda.

  • Fokus pasar: Investor akan mencermati pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober 2026 serta rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang dijadwalkan pekan berikutnya.

Level support dan resistance spesifik belum dapat dipastikan berdasarkan data yang tersedia. Oleh karena itu, konfirmasi melalui grafik harga terbaru tetap diperlukan sebelum menentukan area teknikal utama.

Emas Masih Dibayangi Tekanan

Harga emas dunia pada 21 Oktober 2026 masih berada di bawah tekanan akibat kenaikan harga minyak, risiko inflasi, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun. Penurunan selama empat sesi berturut-turut juga menunjukkan bahwa momentum bearish masih perlu diwaspadai.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik tetap berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset safe haven. Arah pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada dinamika dolar AS, imbal hasil Treasury, harga energi, dan sinyal kebijakan moneter AS.

Share:

Emas Menguat Mendekati $4.200

 


Harga emas dunia (XAU/USD) menguat pada Senin, 19 Oktober 2026, dan bergerak mendekati level US$4.200 per troy ounce. Kenaikan ini didukung oleh penurunan harga minyak, melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), serta meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Meski demikian, prospek kebijakan moneter AS masih menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.

Pergerakan Harga Emas Terbaru

Harga emas spot (XAU/USD) tercatat berada di level US$4.181,84 per troy ounce, mendekati area psikologis US$4.200. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika inflasi AS, arah imbal hasil Treasury, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Faktor Utama Penggerak Harga Emas

1. Penurunan Harga Minyak Mendukung Emas

Harga minyak dunia melemah setelah Amerika Serikat mengambil langkah terkait sanksi dan tarif terhadap Rusia yang berpotensi membuka peluang peningkatan ekspor bahan bakar Rusia.

Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi ini berpotensi menguntungkan emas karena berkurangnya tekanan inflasi dapat mengurangi dorongan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

2. Imbal Hasil Treasury AS Melemah

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,065% dalam perdagangan sesi Asia. Penurunan yield menjadi salah satu faktor yang mendukung harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.

Ketika imbal hasil obligasi menurun, biaya peluang untuk memegang emas cenderung berkurang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas bagi investor, terutama ketika pasar mulai mengantisipasi kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter AS.

3. Kebijakan Suku Bunga The Fed Masih Membayangi

Di tengah dukungan dari pelemahan harga minyak dan imbal hasil Treasury, prospek suku bunga AS tetap menjadi risiko utama bagi pergerakan emas.

Data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) AS yang lebih kuat dari perkiraan pada pekan sebelumnya membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga.

Menurut laporan Reuters, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 15% pada Oktober dan 89% pada Desember berdasarkan CME FedWatch Tool.

Ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed masih menjadi perhatian utama investor. Apabila tekanan inflasi tetap tinggi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi serta penguatan dolar AS, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.

Outlook Harga Emas XAU/USD Hari Ini

Skenario Bullish: Menguji US$4.200

Harga emas berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu mempertahankan momentum positif dan menembus area US$4.200 per troy ounce.

Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury dapat menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga emas. Jika kedua faktor tersebut berlanjut, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan XAU/USD mempertahankan momentum bullish.

Skenario Bearish: Kembali di Bawah US$4.150

Sebaliknya, harga emas berisiko mengalami koreksi apabila tekanan inflasi kembali meningkatkan imbal hasil obligasi AS dan mendorong penguatan dolar AS.

Kegagalan XAU/USD mempertahankan posisi di atas area US$4.150 juga menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan pelaku pasar untuk menilai potensi pelemahan lanjutan.

Perlu dicatat, level US$4.150 dan US$4.200 merupakan area pantauan pasar, bukan level support atau resistance yang telah terkonfirmasi secara teknikal. Kedua skenario tersebut juga merupakan gambaran berdasarkan faktor fundamental, bukan sinyal transaksi yang pasti.

Emas Menanti Arah The Fed

Harga emas dunia pada Senin, 19 Oktober 2026, menguat mendekati US$4.200 per troy ounce. Pelemahan harga minyak dan penurunan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor pendukung, sementara ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed masih membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.

Ke depan, investor akan mencermati pergerakan dolar AS, imbal hasil Treasury, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), serta pertemuan The Fed yang dijadwalkan pada pekan berikutnya.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi menentukan apakah XAU/USD mampu menembus US$4.200 atau kembali menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek.

Share:

Sinyal Reversal Emas

 


Harga emas dunia atau XAUUSD berpotensi menguat setelah membentuk pola Double Bottom pada grafik harian. Berdasarkan analisis teknikal Dupoin Futures, formasi tersebut mengindikasikan peluang pembalikan tren dari bearish menuju bullish. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati level support dan resistance serta perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas.

Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menilai pola Double Bottom menjadi sinyal teknikal penting yang perlu diperhatikan. Pola ini terbentuk ketika harga menguji area terendah sebanyak dua kali dan mengindikasikan potensi melemahnya tekanan jual. Jika momentum bullish semakin kuat, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area resistance US$4.276–US$4.316.

Dalam analisis Dupoin Futures, level US$4.171 menjadi support utama yang perlu dipantau. Selama harga emas mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pembalikan tren ke arah bullish masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan harga menembus support, prospek kenaikan perlu dievaluasi kembali.

Ketegangan Geopolitik Dukung Emas

Selain faktor teknikal, pergerakan emas turut dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mempertimbangkan emas untuk membantu melindungi nilai portofolio mereka.

Dupoin Futures juga menyoroti pergerakan harga minyak sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi prospek emas. Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi daya tarik emas.

Dolar AS dan The Fed Jadi Perhatian

Meski peluang penguatan masih terbuka, harga emas menghadapi sejumlah tantangan. Penguatan dolar AS dapat membatasi kenaikan XAUUSD karena membuat emas lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed tetap menjadi faktor penting. Suku bunga yang bertahan tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil langsung. Sebaliknya, prospek pelonggaran kebijakan moneter berpotensi memberikan dukungan bagi harga logam mulia tersebut.

Oleh karena itu, Dupoin Futures menekankan pentingnya mengamati kombinasi sinyal teknikal dan perkembangan fundamental sebelum mengambil keputusan. Pola Double Bottom dapat menjadi indikasi awal pembalikan tren, tetapi konfirmasi pergerakan harga tetap dibutuhkan untuk menilai kekuatan dan keberlanjutan momentum bullish.

Support dan Resistance XAUUSD

Dengan support di US$4.171 dan resistance di US$4.276–US$4.316, arah pergerakan emas selanjutnya akan bergantung pada kemampuan harga mempertahankan support dan menembus area resistance terdekat.

Analisis Dupoin Futures ini dapat menjadi referensi bagi pelaku pasar dalam memahami peluang dan risiko pergerakan XAUUSD. Namun, pola teknikal tidak menjamin harga akan bergerak sesuai proyeksi.

Investor dan trader tetap perlu memantau perkembangan geopolitik, pergerakan dolar AS, rilis data ekonomi Amerika Serikat, serta pernyataan pejabat The Fed. Faktor-faktor tersebut dapat memicu perubahan volatilitas dan memengaruhi arah harga emas dalam jangka pendek.

Share:

Emas Rebound Dolar Melemah

 

Harga emas dunia menguat pada Kamis setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Pemulihan ini didukung oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS, meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pada pukul 16.41 WIB, harga emas spot (XAU/USD) naik 1,2% menjadi US$4.152,51 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 1,6% ke level US$4.173,75 per troy ounce.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga emas merosot tajam pada Rabu akibat percepatan inflasi konsumen bulanan AS yang melampaui ekspektasi pasar. Lonjakan biaya energi, yang dipicu oleh konflik di Iran, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tekanan inflasi.

Inflasi AS Tekan Harga Emas

Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan mendorong investor meningkatkan taruhan bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter 27–28 Oktober. Ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut pun semakin berkurang.

Reaksi awal pasar terlihat dari kenaikan imbal hasil Treasury AS dan penguatan dolar. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap harga emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global terhadap logam mulia tersebut.

Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mulai mereda. Analis Vital Knowledge mencatat bahwa pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga kumulatif sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun, dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 25 basis poin.

Dolar Melemah, Emas Pulih

Penurunan imbal hasil Treasury AS turut membantu pemulihan harga emas. Pelemahan saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) mendorong sebagian investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang dianggap lebih aman.

Pergerakan tersebut turut menekan dolar AS. Pada pukul 16.39 WIB, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, turun 0,5% ke level 102,01.

Pelemahan dolar memberikan dukungan bagi emas karena membuat logam mulia tersebut relatif lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Penurunan imbal hasil obligasi juga membantu mengurangi tekanan terhadap aset yang tidak menghasilkan bunga.

Meski demikian, prospek emas masih dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter AS. Pasar tetap memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada 2026, terutama jika tekanan inflasi terus meningkat.

Sikap Hawkish The Fed Jadi Risiko

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menilai laporan inflasi terbaru mengecewakan. Ia juga memperingatkan bahwa investasi besar-besaran dalam infrastruktur kecerdasan buatan berpotensi mendorong aktivitas ekonomi terlalu panas dan menambah tekanan inflasi.

Menurut Goolsbee, masih terlalu dini untuk memastikan apakah tingkat suku bunga saat ini sudah cukup tinggi untuk mengembalikan inflasi ke target 2% yang ditetapkan The Fed.

Pernyataan tersebut memperkuat ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS. Jika inflasi tetap persisten, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan ketat lebih lama atau kembali menaikkan suku bunga. Kondisi ini dapat membatasi potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Permintaan Bank Sentral Jadi Kunci

Direktur Pelaksana The Gold Bullion Company, Rick Kanda, mengatakan bahwa prospek harga emas pada tahun depan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama. Di antaranya adalah keberlanjutan permintaan dari bank sentral, perkembangan suku bunga AS, pergerakan dolar, serta minat investor terhadap aset safe haven.

Permintaan bank sentral yang kuat selama ini menjadi salah satu faktor pendukung pasar emas. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, emas tetap menarik bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi aset dan melindungi nilai kekayaan.

Meski demikian, arah pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS dan respons The Fed. Pelemahan dolar serta penurunan imbal hasil Treasury dapat membuka peluang pemulihan lebih lanjut, tetapi ekspektasi suku bunga tinggi masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Share: