Gold
Penggerak Pasar
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melanjutkan penurunan pada perdagangan Kamis dan kembali berada di bawah level 5% untuk pertama kalinya sejak kenaikan yang dimulai pada 23 September 2026. Setelah sempat menyentuh puncak 5,365% pada 7 Oktober 2026, imbal hasil tersebut kini turun ke sekitar 4,966%. Pada saat yang sama, dolar AS melanjutkan pelemahan untuk hari keenam berturut-turut.
Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong kenaikan harga emas. Logam mulia justru kembali tertekan dan ditutup lebih rendah dibandingkan sesi sebelumnya, di sekitar level US$4.024.
Secara umum, penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS seharusnya memberikan dukungan bagi emas. Akan tetapi, kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran terhadap inflasi sehingga potensi penguatan emas masih tertahan. Di sisi lain, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan depan telah turun menjadi sekitar 7%.
Yield di Bawah 5%, Geopolitik Membayangi
Secara teori, penurunan imbal hasil obligasi AS cenderung melemahkan dolar dan mendukung kenaikan harga emas. Namun, hubungan tersebut belum terlihat secara optimal karena pasar masih menghadapi ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi.
Di tengah kondisi tersebut, minat beli terhadap obligasi pemerintah AS jangka menengah mulai terlihat. Investor tampaknya berupaya mencari aset yang relatif aman sembari mengevaluasi kembali prospek pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter.
Obligasi pemerintah AS masih menjadi salah satu tujuan pelarian modal, sedangkan emas belum memperoleh dukungan optimal karena kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed masih membayangi pasar.
Kendati demikian, berkurangnya probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober menjadi perkembangan positif bagi emas. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan berakhir pada 28 Oktober 2026 telah turun menjadi sekitar 7%, sehingga pasar semakin memperhitungkan kemungkinan suku bunga dipertahankan.
Meski begitu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di sekitar 78%. Ekspektasi tersebut berkaitan dengan proyeksi pejabat The Fed dalam dot plot September serta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral pekan lalu yang mengindikasikan kemungkinan masih adanya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Di sisi lain, sekitar 22% probabilitas pasar menunjukkan bahwa The Fed diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga lagi sepanjang tahun ini. Perkembangan tersebut menjadi salah satu hal yang patut dicermati menjelang pertemuan pekan depan, terutama karena ketegangan geopolitik masih tinggi dan munculnya risiko serangan baru yang direncanakan AS dan Israel terhadap Iran berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi.
Sederhananya, eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak naik atau bertahan tinggi, meningkatkan tekanan inflasi, dan mempertahankan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Situasi ini berpotensi membebani harga emas dalam jangka pendek.
Sebaliknya, tercapainya perdamaian Rusia-Ukraina, meredanya ketegangan antara negara-negara Arab dan kelompok Houthi, atau tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS dapat mengurangi risiko geopolitik. Jika perkembangan tersebut mampu menekan harga energi dan meredakan kekhawatiran inflasi, peluang pemulihan emas berpotensi semakin terbuka.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian
Dari sisi ekonomi, pelaku pasar akan mencermati rilis data PMI sektor jasa dan manufaktur AS pada pukul 20.45 WIB, serta indeks sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi dari University of Michigan.
Data PMI diperkirakan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kondisi ekonomi AS dan prospek kebijakan moneter The Fed. Jika hasilnya lebih rendah dari perkiraan, kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga dapat mereda sehingga memberikan peluang bagi emas untuk menguat.
Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan kembali menekan harga emas.
Untuk saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS masih menjadi indikator penting dalam menentukan arah pergerakan emas menjelang pengumuman kebijakan The Fed pekan depan.
Jika imbal hasil obligasi melanjutkan penurunan, emas berpeluang memperoleh dukungan sehingga tekanan jual dapat mereda dan membuka kesempatan untuk rebound. Namun, apabila imbal hasil kembali berbalik naik, emas berisiko mengalami tekanan lanjutan. Dalam skenario tersebut, trader perlu mengevaluasi kembali strategi perdagangan, termasuk kemungkinan memanfaatkan peluang jual sesuai konfirmasi pergerakan harga.
Selain itu, perkembangan geopolitik perlu terus dipantau, terutama hubungan Iran-AS, ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Arab Saudi dan Houthi, serta perkembangan konflik Rusia-Ukraina.
Secara umum, terdapat dua skenario utama yang perlu diperhatikan trader:
Eskalasi geopolitik: Konflik yang semakin memanas berpotensi mempertahankan kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dapat memperbesar peluang The Fed mempertahankan kebijakan ketat atau kembali menaikkan suku bunga, sehingga berpotensi memberikan tekanan negatif terhadap emas.
Deeskalasi melalui negosiasi: Pembicaraan diplomatik dan mediasi yang semakin intens dapat membuka jalan bagi meredanya konflik. Jika tekanan harga energi berkurang, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi melemah dan membuka peluang bagi emas untuk rebound. Penolakan terhadap rencana serangan atau munculnya kesepakatan diplomatik juga dapat membantu memperbaiki sentimen pasar.
Analisis Teknikal Gold
Grafik Daily
Candlestick harian ditutup bearish setelah tekanan jual mendorong harga menembus ke bawah area 4066–4073 dan menyentuh level terendah sekitar 4021 pada sesi malam. Emas sempat mengalami rebound menuju area 4090, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Pada perdagangan pagi berikutnya, tekanan jual kembali membawa harga turun hingga sekitar 3986 sebelum akhirnya pulih ke area 4020–4024.
Secara teknikal, zona support pada grafik harian di kisaran 3959–4023 kini sedang diuji. Area tersebut menjadi zona penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.
Secara teori, pengujian zona support ini dapat memicu berkurangnya tekanan jual dan membuka peluang rebound. Namun, jika harga menembus ke bawah 3959 secara meyakinkan, risiko penurunan lanjutan akan meningkat dengan potensi mengarah ke area 3886, yang merupakan level terendah pada 28 Oktober 2025.
Untuk sementara, risiko geopolitik masih menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Sementara itu, penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi membantu membatasi tekanan jual agar tidak semakin dalam.
Dengan demikian, arah emas selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi pergerakan imbal hasil obligasi AS dan perkembangan geopolitik, khususnya apakah konflik akan kembali meningkat atau justru memasuki fase deeskalasi.
Grafik H4
Pada grafik H4, zona support berwarna merah muda di kisaran 4019–4049 telah ditembus. Tekanan jual kemudian meningkat dan sempat membawa harga turun dengan cepat hingga menyentuh 3986 pada sesi Asia.
Namun, penurunan tersebut berlangsung relatif singkat. Harga emas kembali memantul dan naik hingga sekitar 4024, mengindikasikan masih adanya minat beli di area harga yang lebih rendah.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa emas sedang berada dalam fase teknikal yang krusial. Sejumlah zona support psikologis perlu diperhatikan, terutama area 4000, kemudian 3959–3965 sebagai support terdekat berikutnya, serta 3886–3890 sebagai zona support yang lebih rendah.
Apabila permintaan mampu bertahan di sekitar area tersebut, emas berpeluang kembali bergerak di atas level psikologis 4000, sebagaimana terlihat pada pemulihan harga terakhir.
Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat dan harga menembus zona support secara meyakinkan, risiko penurunan lanjutan perlu diwaspadai.






