Kumpulan Broker Internasional, Broker dengan Cashback Rebate 90% dari komisi kami sebagai IB, 90% Rebate terbesar di Indonesia


Tampilkan postingan dengan label Gold News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gold News. Tampilkan semua postingan

Sinyal Reversal Emas

 


Harga emas dunia atau XAUUSD berpotensi menguat setelah membentuk pola Double Bottom pada grafik harian. Berdasarkan analisis teknikal Dupoin Futures, formasi tersebut mengindikasikan peluang pembalikan tren dari bearish menuju bullish. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati level support dan resistance serta perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas.

Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menilai pola Double Bottom menjadi sinyal teknikal penting yang perlu diperhatikan. Pola ini terbentuk ketika harga menguji area terendah sebanyak dua kali dan mengindikasikan potensi melemahnya tekanan jual. Jika momentum bullish semakin kuat, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area resistance US$4.276–US$4.316.

Dalam analisis Dupoin Futures, level US$4.171 menjadi support utama yang perlu dipantau. Selama harga emas mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pembalikan tren ke arah bullish masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan harga menembus support, prospek kenaikan perlu dievaluasi kembali.

Ketegangan Geopolitik Dukung Emas

Selain faktor teknikal, pergerakan emas turut dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mempertimbangkan emas untuk membantu melindungi nilai portofolio mereka.

Dupoin Futures juga menyoroti pergerakan harga minyak sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi prospek emas. Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi daya tarik emas.

Dolar AS dan The Fed Jadi Perhatian

Meski peluang penguatan masih terbuka, harga emas menghadapi sejumlah tantangan. Penguatan dolar AS dapat membatasi kenaikan XAUUSD karena membuat emas lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed tetap menjadi faktor penting. Suku bunga yang bertahan tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil langsung. Sebaliknya, prospek pelonggaran kebijakan moneter berpotensi memberikan dukungan bagi harga logam mulia tersebut.

Oleh karena itu, Dupoin Futures menekankan pentingnya mengamati kombinasi sinyal teknikal dan perkembangan fundamental sebelum mengambil keputusan. Pola Double Bottom dapat menjadi indikasi awal pembalikan tren, tetapi konfirmasi pergerakan harga tetap dibutuhkan untuk menilai kekuatan dan keberlanjutan momentum bullish.

Support dan Resistance XAUUSD

Dengan support di US$4.171 dan resistance di US$4.276–US$4.316, arah pergerakan emas selanjutnya akan bergantung pada kemampuan harga mempertahankan support dan menembus area resistance terdekat.

Analisis Dupoin Futures ini dapat menjadi referensi bagi pelaku pasar dalam memahami peluang dan risiko pergerakan XAUUSD. Namun, pola teknikal tidak menjamin harga akan bergerak sesuai proyeksi.

Investor dan trader tetap perlu memantau perkembangan geopolitik, pergerakan dolar AS, rilis data ekonomi Amerika Serikat, serta pernyataan pejabat The Fed. Faktor-faktor tersebut dapat memicu perubahan volatilitas dan memengaruhi arah harga emas dalam jangka pendek.

Share:

Emas Rebound Dolar Melemah

 

Harga emas dunia menguat pada Kamis setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Pemulihan ini didukung oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS, meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pada pukul 16.41 WIB, harga emas spot (XAU/USD) naik 1,2% menjadi US$4.152,51 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 1,6% ke level US$4.173,75 per troy ounce.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga emas merosot tajam pada Rabu akibat percepatan inflasi konsumen bulanan AS yang melampaui ekspektasi pasar. Lonjakan biaya energi, yang dipicu oleh konflik di Iran, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tekanan inflasi.

Inflasi AS Tekan Harga Emas

Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan mendorong investor meningkatkan taruhan bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter 27–28 Oktober. Ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut pun semakin berkurang.

Reaksi awal pasar terlihat dari kenaikan imbal hasil Treasury AS dan penguatan dolar. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap harga emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global terhadap logam mulia tersebut.

Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mulai mereda. Analis Vital Knowledge mencatat bahwa pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga kumulatif sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun, dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 25 basis poin.

Dolar Melemah, Emas Pulih

Penurunan imbal hasil Treasury AS turut membantu pemulihan harga emas. Pelemahan saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) mendorong sebagian investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang dianggap lebih aman.

Pergerakan tersebut turut menekan dolar AS. Pada pukul 16.39 WIB, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, turun 0,5% ke level 102,01.

Pelemahan dolar memberikan dukungan bagi emas karena membuat logam mulia tersebut relatif lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Penurunan imbal hasil obligasi juga membantu mengurangi tekanan terhadap aset yang tidak menghasilkan bunga.

Meski demikian, prospek emas masih dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter AS. Pasar tetap memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada 2026, terutama jika tekanan inflasi terus meningkat.

Sikap Hawkish The Fed Jadi Risiko

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menilai laporan inflasi terbaru mengecewakan. Ia juga memperingatkan bahwa investasi besar-besaran dalam infrastruktur kecerdasan buatan berpotensi mendorong aktivitas ekonomi terlalu panas dan menambah tekanan inflasi.

Menurut Goolsbee, masih terlalu dini untuk memastikan apakah tingkat suku bunga saat ini sudah cukup tinggi untuk mengembalikan inflasi ke target 2% yang ditetapkan The Fed.

Pernyataan tersebut memperkuat ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS. Jika inflasi tetap persisten, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan ketat lebih lama atau kembali menaikkan suku bunga. Kondisi ini dapat membatasi potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Permintaan Bank Sentral Jadi Kunci

Direktur Pelaksana The Gold Bullion Company, Rick Kanda, mengatakan bahwa prospek harga emas pada tahun depan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama. Di antaranya adalah keberlanjutan permintaan dari bank sentral, perkembangan suku bunga AS, pergerakan dolar, serta minat investor terhadap aset safe haven.

Permintaan bank sentral yang kuat selama ini menjadi salah satu faktor pendukung pasar emas. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, emas tetap menarik bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi aset dan melindungi nilai kekayaan.

Meski demikian, arah pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS dan respons The Fed. Pelemahan dolar serta penurunan imbal hasil Treasury dapat membuka peluang pemulihan lebih lanjut, tetapi ekspektasi suku bunga tinggi masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Share:

Target Rebound Emas

 

Harga emas dunia (XAU/USD) berpeluang mengalami rebound dalam perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Berdasarkan analisis Dupoin Futures Indonesia, potensi kenaikan harga emas masih terbuka selama level support US$4.118 per troy ounce mampu dipertahankan.

Mengutip analisis Dupoin Futures Indonesia pada Rabu pukul 11.04 WIB, XAU/USD berpotensi menguat menuju US$4.232 apabila tekanan jual tidak mendorong harga menembus area support utama tersebut.

“Meskipun terjadi koreksi saat ini, rebound diperkirakan di sekitar 4.232 selama 4.118 masih utuh,” tulis Dupoin dalam analisisnya.

Sebaliknya, jika harga emas menembus ke bawah US$4.118, tekanan bearish berpotensi meningkat. Dalam skenario tersebut, XAU/USD diperkirakan dapat melanjutkan penurunan menuju US$4.081, dengan target berikutnya di US$4.059.

“Di bawah 4.118, perkiraannya adalah 4.081 dan 4.059,” lanjut Dupoin.

Indikator Teknikal Beri Sinyal Pemulihan

Dari sisi teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di atas level 50. Posisi ini menunjukkan bahwa momentum beli masih relatif terjaga dan membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan pemulihan.

Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di atas garis sinyal, meskipun masih bergerak di wilayah negatif. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perbaikan momentum, tetapi belum cukup kuat untuk mengonfirmasi tren kenaikan secara penuh.

Untuk memperkuat sinyal bullish, MACD perlu bergerak menembus level nol dan memasuki wilayah positif. Jika hal tersebut terjadi, peluang penguatan harga emas dapat semakin terbuka.

XAU/USD Hadapi Resistance MA 50

Pergerakan harga emas terhadap indikator moving average juga menunjukkan kondisi yang beragam. XAU/USD tercatat berada di atas Moving Average (MA) 20 periode pada level US$4.159, tetapi masih di bawah MA 50 periode yang berada di US$4.172.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa harga emas mulai memperlihatkan tanda pemulihan dalam jangka pendek. Namun, tekanan dari rata-rata pergerakan yang lebih panjang masih menjadi tantangan bagi pembeli untuk mendorong harga naik lebih tinggi.

Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati kemampuan XAU/USD untuk menembus area MA 50 di US$4.172 sebagai salah satu acuan momentum kenaikan berikutnya.

Level Kunci Harga Emas Hari Ini

Secara keseluruhan, US$4.118 menjadi level support penting yang menentukan arah pergerakan XAU/USD dalam jangka pendek.

Selama harga emas bertahan di atas area tersebut, peluang rebound menuju US$4.232 masih terbuka. Sebaliknya, jika support US$4.118 ditembus, risiko penurunan menuju US$4.081 hingga US$4.059 perlu diwaspadai.

Pelaku pasar juga perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta sentimen geopolitik yang dapat memengaruhi volatilitas harga emas.

Perlu diingat bahwa proyeksi teknikal bukan jaminan pergerakan harga di masa mendatang. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko dan evaluasi kondisi pasar tetap penting sebelum mengambil keputusan transaksi.

Share:

SSR Mining Akuisisi Roxmore

 

SSR Mining Inc. (NASDAQ: SSRM) mengumumkan pada Senin bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian definitif untuk mengakuisisi seluruh saham beredar Roxmore Resources Inc. (TSX: RM) dengan nilai transaksi sekitar US$464 juta dalam bentuk tunai. Langkah strategis ini bertujuan memperluas operasi pertambangan emas SSR Mining di Nevada, Amerika Serikat.

Berdasarkan ketentuan kesepakatan, pemegang saham Roxmore akan menerima C$6,75 per saham secara tunai. Harga tersebut mencerminkan premi sebesar 27% dibandingkan harga penutupan saham Roxmore pada 9 Oktober 2026, serta premi 47% terhadap harga rata-rata tertimbang volume perdagangan selama 20 hari. Nilai perusahaan dari transaksi ini diperkirakan mencapai US$392 juta.

Selain pembayaran tunai, pemegang saham Roxmore juga akan memperoleh saham pada perusahaan eksplorasi baru yang dibentuk untuk menampung sejumlah aset Roxmore.

Perluas Operasi Nevada

Akuisisi ini akan menambahkan Proyek Emas Converse ke dalam portofolio SSR Mining. Proyek tersebut berlokasi sekitar enam kilometer dari Kompleks Marigold milik SSR Mining di Nevada, sehingga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan pengembangan aset pertambangan di wilayah tersebut.

Berdasarkan estimasi sumber daya mineral Roxmore tahun 2026, Proyek Emas Converse memiliki sumber daya terindikasi sebesar 103 juta ton dengan kadar emas 0,65 gram per ton, setara dengan kandungan sekitar 2,2 juta ons emas. Selain itu, proyek ini memiliki sumber daya tereka sebesar 218 juta ton dengan kadar 0,43 gram per ton, yang mengandung sekitar 3,0 juta ons emas.

Potensi sumber daya tersebut memberikan peluang bagi SSR Mining untuk memperkuat basis produksi emas jangka panjang melalui pengembangan proyek baru di dekat fasilitas pertambangan yang sudah beroperasi.

Target Produksi 2033

SSR Mining berencana mengembangkan Proyek Emas Converse untuk menambah produksi tahunan sekitar 150.000 hingga 170.000 ons emas. Proyek ini diperkirakan memiliki umur tambang selama 10 tahun, dengan target produksi pertama pada 2033.

Perusahaan memperkirakan kebutuhan belanja modal awal untuk pembangunan proyek berkisar antara US$800 juta hingga US$900 juta. Namun, tidak ada pengeluaran modal material yang diproyeksikan hingga awal dekade 2030-an.

Jadwal pengembangan tersebut memberikan waktu bagi SSR Mining untuk mempersiapkan tahapan konstruksi sekaligus mengoptimalkan perencanaan operasional sebelum produksi dimulai.

Sinergi Lebih US$200 Juta

SSR Mining memperkirakan akuisisi Roxmore dapat menghasilkan sinergi sepanjang umur tambang dengan nilai tidak didiskon lebih dari US$200 juta. Potensi penghematan ini diperkirakan berasal dari penghapusan biaya yang tumpang tindih serta peningkatan efisiensi operasional dibandingkan apabila Proyek Emas Converse dikembangkan secara independen.

Kedekatan lokasi Converse dengan Kompleks Marigold menjadi salah satu faktor penting yang mendukung potensi sinergi tersebut. Integrasi kedua aset diharapkan membantu perusahaan memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur dan mengurangi duplikasi biaya operasional.

Persetujuan dan Jadwal Transaksi

Penyelesaian akuisisi masih memerlukan persetujuan sedikitnya dua pertiga suara yang diberikan oleh pemegang efek Roxmore dalam rapat khusus, serta persetujuan pengadilan. Perjanjian tersebut juga mencakup biaya pemutusan sebesar C$18 juta yang harus dibayarkan kepada SSR Mining dalam kondisi tertentu.

Direktur, jajaran eksekutif, dan sejumlah pemegang saham utama Roxmore yang secara kolektif memiliki sekitar 26,8% saham beredar telah menyepakati komitmen untuk memberikan suara mendukung transaksi tersebut.

SSR Mining memperkirakan akuisisi ini akan selesai pada kuartal keempat 2026. Pendanaan transaksi akan menggunakan posisi kas perusahaan yang tersedia saat ini.

Melalui akuisisi Roxmore, SSR Mining berupaya memperkuat portofolio aset emasnya di Nevada, meningkatkan potensi produksi jangka panjang, serta menciptakan efisiensi biaya melalui pengembangan proyek yang berdekatan dengan operasi pertambangan yang sudah ada.

Share:

Prospek Harga Emas

 


Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, dan bergerak mendekati level psikologis US$4.200 per troy ounce. Pelaku pasar mencermati penurunan harga minyak setelah muncul klaim mengenai gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina, sementara ketegangan di Timur Tengah serta penantian data inflasi Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar.

Mengutip laporan Reuters, harga emas spot naik sekitar 0,1% menjadi US$4.198,19 per troy ounce pada pukul 04.32 GMT. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember menguat 0,1% ke US$4.221,80 per troy ounce. Kenaikan tersebut melanjutkan tren positif emas yang mencatat penguatan sekitar 1,3% sepanjang pekan sebelumnya.

Faktor Penggerak Harga Emas Hari Ini

1. Harapan Gencatan Senjata Rusia–Ukraina

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina akan segera berlaku. Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa gangguan pasokan energi dapat berkurang, sehingga membantu menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Penurunan harga energi berpotensi memberikan dukungan bagi emas apabila turut mengurangi tekanan terhadap ekspektasi suku bunga. Meski demikian, pasar masih menunggu kejelasan mengenai implementasi kesepakatan tersebut.

2. Konflik Timur Tengah Membayangi Emas

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah masih menjadi risiko bagi pasar komoditas. Serangan baru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta insiden yang melibatkan kapal tanker memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi.

Harga minyak mentah Brent yang masih berada di atas US$100 per barel menunjukkan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya mereda. Jika harga minyak kembali melonjak, ekspektasi inflasi dapat meningkat dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga emas.

3. Dolar AS Kuat Menjelang Rilis CPI

Indeks dolar AS (DXY) berada di sekitar 102,16 pada perdagangan sesi Asia, tidak jauh dari level tertinggi dalam 18 bulan. Penguatan dolar menjadi salah satu tantangan bagi harga emas karena membuat logam mulia tersebut relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Pergerakan dolar AS akan menjadi perhatian utama pasar, terutama menjelang rilis data inflasi terbaru. Apabila dolar kembali menguat, harga emas berpotensi menghadapi tekanan jual. Sebaliknya, pelemahan dolar dapat memberikan ruang bagi XAU/USD untuk melanjutkan pemulihan.

4. Data Inflasi AS Jadi Katalis Utama

Investor kini mengalihkan perhatian ke laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 14 Oktober 2026. Selain itu, data Indeks Harga Produsen (PPI) dan penjualan ritel pada Kamis juga akan menjadi fokus pelaku pasar.

Data inflasi yang lebih tinggi daripada perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Skenario tersebut dapat menopang dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sekaligus menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan membuka peluang bagi harga emas untuk bergerak lebih tinggi.

Prospek Harga Emas XAU/USD

Berdasarkan data Reuters, harga emas spot tercatat di US$4.198,19 per troy ounce pada pukul 04.32 GMT, sedangkan emas berjangka AS untuk pengiriman Desember berada di US$4.221,80 per troy ounce.

Dari perspektif fundamental, emas masih memperoleh dukungan dari harapan meredanya ketegangan energi antara Rusia dan Ukraina serta pergerakan harga minyak yang lebih rendah. Namun, prospek penguatan lanjutan tetap dibayangi ketidakpastian geopolitik, kekuatan dolar AS, dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Analisis Teknikal XAU/USD

Secara teknikal, level US$4.200 menjadi area psikologis penting yang diperhatikan pelaku pasar. Kemampuan harga untuk bertahan di atas level tersebut dapat memperkuat peluang pengujian area resistance berikutnya.

Sebaliknya, apabila XAU/USD gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali bergerak di bawah US$4.200, tekanan koreksi berpotensi meningkat. Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada respons pasar terhadap dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta data inflasi yang akan dirilis pekan ini.

Level US$4.200 tetap perlu dipandang sebagai acuan psikologis, bukan konfirmasi sinyal perdagangan. Konfirmasi arah harga memerlukan dukungan pergerakan aktual dan indikator teknikal lainnya.


Harga emas dunia menguat tipis pada Senin, 12 Oktober 2026, dan mendekati US$4.200 per troy ounce. Harapan gencatan senjata energi Rusia–Ukraina dan potensi penurunan tekanan inflasi memberikan dukungan bagi logam mulia tersebut.

Namun, penguatan emas masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk konflik di Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, dolar AS yang relatif kuat, dan ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar XAU/USD perlu mencermati pergerakan dolar AS, harga minyak mentah, imbal hasil obligasi AS, serta rilis CPI pada pertengahan pekan. Data inflasi tersebut berpotensi menjadi katalis utama yang menentukan arah pergerakan harga emas berikutnya.


Share:

UBS Pilih Saham Emas

 

UBS mengidentifikasi sejumlah saham perusahaan tambang emas unggulan di tengah volatilitas pasar dan meningkatnya tekanan biaya yang diperkirakan berlanjut hingga 2027. Meski harga emas masih berada pada level tinggi, kenaikan biaya energi dan operasional berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan tambang dalam beberapa kuartal mendatang.

Harga emas sempat mencetak rekor sekitar US$5.400 per ons pada Januari 2026, sebelum terkoreksi ke kisaran US$4.000 per ons pada Juli. Harga kemudian pulih ke sekitar US$4.700 per ons pada Agustus, tetapi kembali melemah dan menutup September di kisaran US$4.170 per ons.

Volatilitas tersebut juga tercermin pada kinerja dana GDX, yang mencatat fluktuasi dari puncak ke lembah sekitar minus 40% hingga plus 50% sepanjang tahun berjalan. Pergerakan ini menunjukkan tingginya sensitivitas saham perusahaan tambang emas terhadap perubahan harga logam mulia.

UBS menilai valuasi saham sektor emas secara umum masih berada pada tingkat yang wajar. Margin keuntungan perusahaan tambang juga dinilai tetap menarik selama harga emas bertahan di atas US$4.000 per ons. Namun, tekanan harga energi dan kenaikan biaya operasional lainnya diperkirakan mendorong peningkatan biaya produksi per unit pada 2027.

Karena itu, UBS menyarankan investor untuk menerapkan strategi investasi selektif pada saham pertambangan emas, terutama menjelang publikasi laporan keuangan kuartal III dan penyampaian proyeksi bisnis untuk 2027.

Investor dapat mempertimbangkan perusahaan dengan kinerja operasional yang membaik, arus kas yang kuat, valuasi menarik, serta proyek pengembangan yang berpotensi mendukung pertumbuhan jangka panjang.

6 Saham Tambang Emas Pilihan UBS

1. Newmont (NEM)

Newmont menjadi pilihan utama UBS di antara produsen emas berskala besar. Rekomendasi ini didukung oleh prospek pengembalian kas yang lebih jelas, rendahnya kemungkinan terjadinya merger dan akuisisi besar, serta perbaikan moderat dalam prospek operasional perusahaan.

Kinerja operasional Newmont juga menunjukkan peningkatan setelah sebelumnya menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan bisnis.

Selain itu, perselisihan terkait Nevada Gold Mines dengan Barrick telah diselesaikan. Newmont membayar US$1,95 miliar untuk memasukkan aset Fourmile, Fiberline, dan Mike ke dalam usaha patungan berdasarkan perjanjian yang diperbarui.

Penyelesaian tersebut menghilangkan salah satu hambatan penting bagi perusahaan sekaligus membuka peluang pengembangan aset untuk jangka panjang.

2. Barrick

Meskipun UBS menilai Newmont sebagai pihak yang paling diuntungkan dari kesepakatan Nevada Gold Mines, bank investasi tersebut memperkirakan bahwa dampak positif kesepakatan itu sudah tercermin dalam kinerja relatif dan valuasi saham Barrick.

Di sisi lain, prospek Barrick tetap didukung oleh perbaikan kinerja operasional dan potensi pengembalian kas dalam jangka pendek.

UBS juga menilai valuasi saham Barrick masih menarik, sementara kemungkinan perusahaan melakukan merger dan akuisisi berskala besar dalam waktu dekat relatif rendah.

Kombinasi tersebut menjadikan Barrick salah satu saham pertambangan emas yang layak diperhatikan investor di tengah volatilitas sektor.

3. Endeavour Mining

Endeavour Mining menawarkan potensi imbal hasil arus kas bebas yang menarik. Meskipun perusahaan menghadapi risiko negara yang relatif lebih tinggi, UBS menilai risiko tersebut telah tercermin dalam valuasi sahamnya.

Imbal hasil arus kas bebas berdasarkan harga emas saat ini diperkirakan melampaui 10%. UBS juga memperkirakan pengembalian kas kepada pemegang saham dapat meningkat pada 2026.

Dalam jangka menengah, perusahaan dinilai memiliki kemampuan mempertahankan distribusi kas yang sehat meskipun belanja modal meningkat.

Salah satu pendorong pertumbuhan utama adalah pengembangan proyek Assafou di Pantai Gading. Investasi tersebut diperkirakan mendukung pertumbuhan produksi sekitar 40% selama periode 2025–2029, meskipun peningkatan belanja modal tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

4. SSR Mining

SSR Mining kini memasuki tahap penting setelah menyelesaikan divestasi asetnya di Turki. Fokus investasi terhadap perusahaan beralih pada kemampuan menjalankan strategi operasional, memperpanjang umur tambang, serta mengalokasikan kas secara efektif.

UBS memperkirakan portofolio SSR Mining mampu mempertahankan produksi setara emas sedikit di bawah 500.000 ons per tahun.

Dengan kas lebih dari US$2 miliar, keputusan perusahaan dalam mengelola likuiditas dan menentukan prioritas investasi akan menjadi faktor penting dalam menilai prospek sahamnya ke depan.

5. Skeena Resources

Skeena Resources menjadi salah satu perusahaan yang menarik perhatian UBS berkat perkembangan proyek Eskay Creek.

Perusahaan tersebut telah memperoleh izin-izin utama untuk proyek Eskay Creek pada Februari 2026, sementara pembangunan dilaporkan tetap berjalan sesuai jadwal.

Katalis berikutnya mencakup pembaruan parameter utama proyek serta perkembangan konstruksi menuju target pengoperasian awal atau commissioning.

Kemajuan pembangunan dan kemampuan perusahaan memenuhi target proyek akan menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan Skeena Resources.

6. Franco-Nevada

Franco-Nevada melengkapi daftar saham pilihan UBS, terutama karena potensi pembukaan kembali operasi Cobre Panama yang dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham.

Berdasarkan penilaian UBS, Franco-Nevada diperdagangkan pada sekitar 15 kali rasio nilai perusahaan terhadap EBITDA berdasarkan estimasi harga spot untuk 2028. Angka tersebut berada di bawah rata-rata lima tahun perusahaan sebesar 21,5 kali.

Perbedaan valuasi tersebut membuka peluang bagi investor apabila prospek operasional dan kontribusi aset perusahaan membaik. Namun, realisasi potensi tersebut tetap bergantung pada perkembangan proyek dan kondisi bisnis ke depan.

Prospek Saham Tambang Emas pada 2027

Pilihan saham UBS menunjukkan bahwa peluang investasi di sektor pertambangan emas tidak hanya bergantung pada kenaikan harga emas, tetapi juga pada kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi, menjaga arus kas, dan menjalankan proyek secara efisien.

Newmont dan Barrick menonjol melalui skala bisnis serta prospek operasional, sedangkan Endeavour Mining menawarkan potensi imbal hasil arus kas. SSR Mining memiliki fokus pada optimalisasi kas dan umur tambang, Skeena Resources mengandalkan perkembangan proyek Eskay Creek, sementara Franco-Nevada menawarkan potensi dari valuasi dan perkembangan Cobre Panama.

Meski demikian, kenaikan biaya energi dan operasional pada 2027 tetap menjadi risiko utama bagi sektor ini. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, kondisi keuangan, risiko negara, serta kemajuan proyek sebelum mengambil keputusan investasi.

Kesimpulannya, UBS melihat peluang pada saham-saham pertambangan emas yang memiliki fundamental kuat dan katalis pertumbuhan yang jelas. Di tengah volatilitas harga emas, pendekatan selektif dapat membantu investor membedakan perusahaan yang mampu mempertahankan profitabilitas dari perusahaan yang lebih rentan terhadap tekanan biaya.

Share:

Emas Uji Resistance

 

Market Insight XAU/USD 8 Oktober 2026 menunjukkan bahwa harga emas masih berada dalam tekanan bearish setelah sebelumnya mencetak Break of Structure (BOS) ke arah bawah. Setelah merosot hingga level 4,066, XAU/USD kini memasuki fase koreksi atau retracement menuju area resistance penting 4,138–4,150.

Pergerakan di zona tersebut menjadi perhatian utama trader karena struktur bearish jangka pendek masih terjaga. Respons harga terhadap area resistance akan menjadi penentu apakah emas kembali melanjutkan tren penurunan atau justru memperpanjang fase pemulihan.

BOS Bearish Kembali Terbentuk

Pergerakan harga emas terbaru menunjukkan bahwa skenario bearish sebelumnya telah terealisasi dengan terbentuknya BOS baru ke arah bearish. Kondisi ini mengindikasikan bahwa seller kembali memegang kendali terhadap struktur harga jangka pendek.

Break of Structure atau BOS terjadi ketika harga menembus titik swing penting sebelumnya. Dalam analisis teknikal, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tren yang sedang berlangsung berpotensi berlanjut.

Setelah membentuk struktur bearish tersebut, harga XAU/USD sempat turun tajam hingga menyentuh level 4,066 sebelum kemudian mengalami rebound dan memasuki fase koreksi.

Area Retracement 4,138–4,150

Saat ini, harga emas telah bergerak menuju area retracement Fibonacci 61,8%, dengan zona pengujian utama berada di sekitar 4,138–4,150.

Selama struktur bearish belum mengalami perubahan signifikan, area tersebut menjadi resistance penting untuk mengamati potensi bearish continuation. Trader sebaiknya tidak terburu-buru membuka posisi sell hanya karena harga telah memasuki zona retracement.

Sebaliknya, respons harga di area 4,138–4,150 perlu diperhatikan untuk mencari indikasi rejection yang dapat memperkuat peluang penurunan berikutnya.

Tunggu Konfirmasi M15 dan M5

Untuk strategi day trading, konfirmasi pada timeframe yang lebih rendah dapat membantu meningkatkan kualitas entry. Ketika XAU/USD menguji area 4,138–4,150, trader dapat memantau pergerakan pada timeframe M15 atau M5.

Jika harga gagal menembus resistance dan membentuk pola rejection yang menunjukkan kembali masuknya tekanan jual, peluang untuk melanjutkan posisi bearish menjadi lebih terbuka.

Pendekatan ini juga membantu trader menghindari entry yang terlalu dini ketika harga masih berada dalam fase volatilitas atau koreksi.

Target Penurunan XAU/USD

Apabila area resistance 4,138–4,150 berhasil dipertahankan oleh seller, harga emas berpotensi kembali bergerak turun secara bertahap. Beberapa level yang menjadi perhatian antara lain:

  • Target pertama: 4,111–4,105, sebagai area support sekaligus pengujian low sebelumnya.

  • Target kedua: 4,088, yang menjadi support berikutnya dan dapat menjadi indikator kekuatan tekanan jual.

  • Target ketiga: 4,066, yaitu low terbaru yang berpotensi kembali diuji apabila tekanan bearish berlanjut.

Namun, trader tetap perlu memperhatikan risiko perubahan struktur apabila harga berhasil menembus resistance utama.

Skenario Jika Harga Tembus 4,150

Level 4,150 menjadi batas penting dalam skenario bearish saat ini. Jika XAU/USD berhasil menembus dan bertahan di atas level tersebut, tekanan bearish perlu dievaluasi kembali.

Dalam skenario tersebut, fase retracement berpotensi meluas menuju area 4,180–4,185. Karena itu, konfirmasi pergerakan harga di sekitar 4,150 menjadi penting sebelum menentukan arah transaksi berikutnya.


Share:

Emas Tertekan FOMC

 


Harga emas kembali melemah pada perdagangan Rabu, dengan XAU/USD bergerak di kisaran US$4.130–US$4.140 per troy ounce. Penurunan tersebut membuat harga emas kembali mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir.

XAU/USD sempat berada di sekitar US$4.135, dengan rentang perdagangan harian antara US$4.127 hingga US$4.170. Tekanan terhadap emas terutama datang dari penguatan dolar AS serta tingginya imbal hasil Treasury AS.

Indeks Dolar AS (DXY) menguat sekitar 0,3% menuju area 102,1, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5,30%. Penguatan dolar dan kenaikan yield membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik bagi investor.

Pasar Menanti Risalah FOMC

Perhatian pasar kini tertuju pada risalah rapat Federal Reserve (The Fed) bulan September. Investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS berikutnya, terutama terkait kemungkinan perubahan suku bunga pada pertemuan Oktober dan Desember.

Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober telah menurun ke kisaran 19–22%. Namun, peluang kenaikan pada Desember masih menjadi perhatian utama pasar.

Jika risalah FOMC menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed masih mengkhawatirkan inflasi dan mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat, dolar AS dan yield Treasury berpotensi kembali menguat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas dan XAU/USD.

Sebaliknya, apabila risalah menunjukkan semakin banyak pejabat The Fed yang mengkhawatirkan perlambatan pasar tenaga kerja, ekspektasi pelonggaran kebijakan dapat kembali meningkat. Skenario tersebut berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk menguat.

Harga Minyak Jadi Sorotan

Pergerakan harga minyak juga menjadi faktor penting bagi prospek emas. Harga Brent kembali berada di atas US$100 per barel dan sempat mencapai sekitar US$101,5 per barel.

Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Jika inflasi kembali meningkat akibat biaya energi, The Fed dapat menjadi lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

Namun, membaiknya aliran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah mulai mengurangi kekhawatiran mengenai gangguan energi yang berkepanjangan. Perkembangan tersebut dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor emas dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

Support dan Resistance Emas

Dari perspektif teknikal, area US$4.100–US$4.112 menjadi support penting bagi XAU/USD. Jika harga emas menembus area tersebut secara meyakinkan, tekanan jual berpotensi meningkat dengan target berikutnya menuju level psikologis US$4.000.

Di sisi lain, pemulihan harga emas perlu melewati area US$4.150–US$4.170 untuk mengurangi tekanan bearish jangka pendek. Penguatan lebih lanjut di atas US$4.200 dapat membuka peluang pemulihan yang lebih kuat.

Secara keseluruhan, bias XAU/USD masih bearish dalam jangka pendek selama harga bertahan di bawah area US$4.150–US$4.200. Selanjutnya, risalah FOMC akan menjadi salah satu katalis utama yang berpotensi memicu volatilitas tinggi dan menentukan arah pergerakan emas berikutnya.

Share:

Emas Mulai Pulih

 

Harga emas (XAU/USD) melanjutkan pemulihan dari level terendah dua bulan di sekitar US$4.100 per troy ons dan kembali menembus US$4.150 pada perdagangan Selasa di sesi Eropa. Penguatan ini terjadi setelah dolar AS (USD) mengambil jeda dari reli tajamnya dalam beberapa sesi terakhir.

Pelemahan sementara dolar AS memberikan dukungan bagi harga emas. Selain itu, berkurangnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober turut membantu emas, yang tidak memberikan imbal hasil.

Meski demikian, prospek fundamental masih menunjukkan risiko penurunan bagi emas. Karena itu, investor perlu berhati-hati sebelum mengantisipasi pemulihan yang lebih kuat.

Prospek Teknikal Harga Emas

Setelah mengalami penurunan dari level tertinggi bulanan Agustus, pergerakan emas yang cenderung bergerak dalam kisaran masih menunjukkan pola konsolidasi bearish.

Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di bawah garis nol. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 38, yang mencerminkan momentum bearish masih cukup kuat meski belum menunjukkan kondisi oversold yang ekstrem.

Harga emas perlu menembus secara meyakinkan level Fibonacci retracement 78,6% di US$4.098 untuk membuka peluang penurunan lebih lanjut. Jika level tersebut ditembus, harga berpotensi bergerak menuju area US$3.936, yang menjadi salah satu level dasar struktural dari siklus sebelumnya.

Di sisi atas, resistance awal berada pada Fibonacci retracement 61,8% di US$4.226. Resistance berikutnya berada di sekitar US$4.254, yang merupakan SMA 100 periode pada grafik 4 jam.

Jika emas mampu menembus area tersebut, perhatian berikutnya tertuju pada level US$4.316, kemudian US$4.406 dan US$4.517. Sementara itu, swing high yang lebih jauh berada di sekitar US$4.696.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan inflasi mulai melambat, sementara kondisi pasar tenaga kerja juga menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Di sisi lain, harga minyak mentah bertahan di dekat level terendah empat pekan.

Kuatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah serta keputusan negara-negara G7 untuk melepas cadangan minyak darurat membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasokan. Kondisi tersebut mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 85% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan biaya pinjaman sebelum akhir tahun.

Payrolls Lemah Belum Mengubah Ekspektasi Fed

Ekonom Deutsche Bank menilai data payrolls AS yang lebih lemah belum cukup untuk mengubah gambaran pasar tenaga kerja secara fundamental. Menurut mereka, kondisi pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih relatif tangguh, terutama setelah mempertimbangkan data ADP dan klaim pengangguran terbaru.

Deutsche Bank masih memperkirakan dua kenaikan suku bunga The Fed masing-masing sebesar 25 basis poin dalam beberapa kuartal mendatang.

Dari sisi pasar, Deutsche Bank mencatat ekspektasi kenaikan suku bunga sekitar 86 basis poin dalam 12 bulan ke depan. Angka tersebut turun dari sekitar 100 basis poin pada awal pekan sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan sekitar 70 basis poin segera setelah data payrolls dirilis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed memang telah berkurang, tetapi pasar masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.

Risiko Geopolitik Jadi Perhatian

Ketidakpastian geopolitik dan tingginya imbal hasil obligasi AS juga berpotensi membatasi pelemahan dolar dari level tertinggi sejak April 2025 yang dicapai pada Senin.

Perkembangan terbaru di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengatakan telah melakukan tiga operasi militer menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone terhadap sejumlah target di Arab Saudi.

Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman mengatakan telah menghancurkan platform peluncuran rudal balistik di Sanaa serta fasilitas penyimpanan di wilayah Saada.

Risiko geopolitik semakin meningkat setelah laporan media menyebut Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran, baik dengan koordinasi AS maupun secara independen. Jika terjadi, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan memberikan dampak terhadap pasar energi serta aset safe haven.

Sementara itu, tekanan fiskal yang semakin dalam di Prancis memicu aksi jual di pasar obligasi. Kondisi tersebut membantu menjaga imbal hasil Treasury AS tetap tinggi dan memberikan dukungan bagi dolar AS.

Dengan kombinasi tersebut, tekanan terhadap harga emas masih berpotensi berlanjut. Namun, trader bearish kemungkinan akan menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed sebelum membuka posisi baru.

Risalah FOMC Jadi Fokus

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada risalah rapat FOMC yang dijadwalkan terbit pada Rabu. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed serta perkembangan geopolitik juga berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan harga emas.

Jika tekanan terhadap emas berlanjut, penembusan di bawah US$4.098 dapat menjadi sinyal penting bagi kelanjutan tren bearish XAU/USD. Sebaliknya, kemampuan harga untuk kembali menembus US$4.226 dan US$4.254 dapat membuka ruang bagi pemulihan menuju level resistance berikutnya.

Untuk saat ini, prospek fundamental masih menunjukkan bahwa risiko penurunan emas lebih besar, meskipun aksi profit-taking pada dolar AS memberikan ruang bagi pemulihan harga dalam jangka pendek.

Share:

Emas Dunia Stabil

 

Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (2/10) setelah imbal hasil obligasi AS menurun. Pasar juga mulai mengurangi spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) pada Oktober, meski risiko eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjaga harga energi tetap tinggi.

Mengutip Bloomberg, harga emas spot naik tipis menjadi US$4.181,40 per troy ounce pada pukul 14.47 WIB. Kendati stabil dalam perdagangan hari ini, harga emas masih berada di jalur penurunan mingguan sekitar 2,4%.

Imbal Hasil Obligasi AS Turun

Imbal hasil US Treasury bergerak lebih rendah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Prancis juga melandai di seluruh kurva pada Kamis. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun Prancis turun dari level tertinggi dalam 24 tahun, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek fiskal negara tersebut yang turut mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi salah satu tekanan utama bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan harga emas sekitar 6% pada September.

Spekulasi Kenaikan Fed Mereda

Dari Amerika Serikat, Wakil Ketua Fed Philip Jefferson mengatakan bank sentral mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai apakah kenaikan suku bunga tambahan diperlukan.

Pernyataan tersebut membantu meredakan spekulasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan ekspektasi pasar yang dikutip Bloomberg, peluang kenaikan suku bunga acuan pada Oktober kini sekitar 26%, turun tajam dari sekitar 70% pada awal pekan.

Perubahan ekspektasi tersebut memberikan sedikit ruang bagi emas untuk mempertahankan posisinya setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya.

Konflik Timur Tengah Jadi Risiko

Di sisi lain, harga minyak kembali meningkat seiring munculnya tanda-tanda bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi memburuk. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pemulihan aliran energi dari kawasan tersebut.

Bloomberg melaporkan bahwa seorang pejabat AS mengatakan Washington akan mengirimkan tambahan satu kapal induk serta 10.000 pelaut dan marinir ke Teluk Persia. Penambahan tersebut membuat jumlah kelompok tempur kapal induk AS kembali ke tingkat yang sama seperti pada awal perang melawan Iran pada akhir Februari.

Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, potensi gangguan pasokan energi dapat menjadi faktor yang kembali memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter global.

Emas Masih di Sekitar US$4.100

Hebe Chen, Analis Pasar Senior di Vantage Global Markets Pty Ltd., menilai pergerakan emas yang tenang saat ini menyembunyikan dinamika pasar yang cukup kuat.

Menurutnya, inflasi AS yang lebih rendah, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober, serta penurunan harga minyak sebelumnya memberikan ruang bagi emas untuk bergerak lebih tinggi.

Namun, imbal hasil US Treasury yang masih tinggi dan dolar AS yang menguat tetap menjadi hambatan bagi logam mulia. Kondisi tersebut membuat harga emas masih bergerak di sekitar level US$4.100 per troy ounce.

Dengan demikian, pelaku pasar masih mencermati arah imbal hasil obligasi AS, pergerakan dolar, ekspektasi kebijakan Fed, serta perkembangan konflik Timur Tengah sebagai katalis utama harga emas dalam jangka pendek.

Share:

Mayfair Gold Dapat Pembiayaan


Mayfair Gold Amankan Pembiayaan C$310 Juta

Mayfair Gold Corp. (TSXV:MFG) (NYSE American:MINE) mengumumkan telah menandatangani perjanjian berlangganan untuk investasi ekuitas senilai C$10 juta serta surat keterlibatan dengan Macquarie Bank Limited untuk fasilitas pembiayaan proyek yang diusulkan senilai C$300 juta.

Total paket pembiayaan mencapai C$310 juta dan akan digunakan untuk mendukung pengembangan Proyek Emas Fenn-Gib di Ontario Utara.

Berdasarkan siaran pers perusahaan, Macquarie akan membeli saham biasa Mayfair Gold senilai C$10 juta dengan harga C$4,26 per saham. Harga tersebut mencerminkan premi sekitar 10% dibandingkan harga rata-rata tertimbang volume selama lima hari di TSX Venture Exchange hingga 30 September 2026.

Fasilitas Pembiayaan Proyek C$300 Juta

Fasilitas pembiayaan proyek yang diusulkan senilai C$300 juta, termasuk hingga C$20 juta dalam bentuk bunga yang dikapitalisasi, akan membantu membiayai sebagian dari kebutuhan modal pengembangan awal sebesar C$450 juta berdasarkan Studi Pra-Kelayakan 2026 Mayfair Gold.

Fasilitas tersebut juga mencakup tranche penarikan awal sebesar C$25 juta yang diharapkan tersedia pada saat penutupan. Dana awal ini akan digunakan untuk mendukung pekerjaan persiapan proyek dan pembelian peralatan.

Suku bunga yang diusulkan ditetapkan pada Adjusted Term CORRA +4,75% per tahun dan akan turun menjadi CORRA +4,25% setelah proyek selesai.

Pembayaran kembali secara triwulanan dijadwalkan dimulai enam bulan setelah produksi komersial dimulai. Seluruh fasilitas harus dilunasi dalam waktu 72 bulan setelah penarikan awal mengikuti tranche pertama.

Macquarie Mendapatkan Hak Offtake Emas

Sebagai bagian dari paket pembiayaan tersebut, Mayfair Gold dan Macquarie juga mengusulkan perjanjian offtake.

Perjanjian tersebut memberikan Macquarie hak atas 50.000 ons emas pertama yang diproduksi setiap tahun, hingga batas maksimum 300.000 ons. Harga pembelian akan menggunakan harga referensi yang dipublikasikan dengan diskon sebesar US$50 per ons.

Namun, term sheet tersebut masih bersifat tidak mengikat. Penyelesaian transaksi tetap bergantung pada proses uji tuntas, tinjauan rekayasa independen, dokumentasi definitif, serta pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan yang lazim dalam transaksi pembiayaan proyek.

Proyek Fenn-Gib Targetkan Produksi 2030

Proyek Fenn-Gib milik Mayfair Gold memiliki sumber daya mineral terindikasi sebesar 4,3 juta ons emas dan cadangan mineral probable sebesar 1 juta ons.

Perusahaan menargetkan dimulainya konstruksi pada 2028, sementara produksi awal diharapkan dapat dimulai pada 2030.

Dengan paket pembiayaan yang diusulkan tersebut, Mayfair Gold berupaya mendukung kebutuhan pendanaan untuk tahap awal pengembangan Proyek Emas Fenn-Gib hingga memasuki fase konstruksi dan produksi.

Share:

Futures Emas Tertekan di Perdagangan Asia


Harga futures emas bergerak melemah pada perdagangan Asia, Rabu, seiring penguatan tipis dolar AS yang memberikan tekanan terhadap logam mulia.

Di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, futures emas untuk penyerahan Desember diperdagangkan di level USD4.202,75 per troy ons, turun 0,55% pada saat penulisan.

Emas sebelumnya mencatat level terendah sesi di sekitar level tersebut. Secara teknikal, harga emas diperkirakan memiliki support di USD4.143,10, sementara resistance berada di USD4.351,60.

Sementara itu, Indeks Dolar AS Berjangka, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,04% ke level USD101,16. Penguatan dolar AS cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas karena membuat logam mulia tersebut menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Di pasar Comex, harga futures perak untuk penyerahan Desember juga melemah 0,31% ke USD61,35 per troy ons. Sementara itu, futures tembaga untuk penyerahan Desember turun 0,51% menjadi USD6,62 per pon.

Share:

Futures Emas Menguat


Futures Emas Naik di Perdagangan Asia

Harga futures emas bergerak menguat dalam perdagangan Asia pada Selasa, menunjukkan kenaikan tipis di tengah pergerakan pasar komoditas dan mata uang.

Di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, futures emas untuk penyerahan Desember diperdagangkan pada USD4.162,67 per troy ons pada saat penulisan, naik 0,14%.

Instrumen tersebut sebelumnya mencatat level tertinggi sesi pada level yang belum tersedia. Secara teknikal, harga emas berpotensi mendapatkan support di USD4.143,30, sementara resistance berada di USD4.351,60 per troy ons.

Sementara itu, Indeks Dolar AS Berjangka, yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama, naik 0,11% dan diperdagangkan di level 101,04. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar komoditas, mengingat emas umumnya sensitif terhadap pergerakan greenback.

Di pasar Comex, harga futures perak untuk penyerahan Desember turun 1,20% menjadi USD60,98 per troy ons. Sebaliknya, futures tembaga untuk penyerahan Desember naik 0,16% dan diperdagangkan pada USD6,62 per pon.

Share:

Saham AEM Tertekan


Saham Agnico Eagle Turun Hari Ini

Saham Agnico Eagle Mines Limited (AEM) turun 4,9% dalam perdagangan pre-market hari ini hingga mencapai US$184,99. Penurunan tersebut terjadi di tengah koreksi tajam harga emas yang memberikan tekanan langsung terhadap prospek pendapatan perusahaan tambang emas tersebut.

Harga emas spot sempat turun di bawah US$4.200 per troy ons dalam perdagangan intraday, merosot lebih dari US$100 dalam satu sesi. Tekanan terhadap emas muncul setelah sejumlah pejabat Federal Reserve menyampaikan pernyataan hawkish yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada Oktober menjadi sekitar 68%.

Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan dolar AS. Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Kinerja Laba Agnico Eagle Jadi Perhatian

Tekanan terhadap saham Agnico Eagle juga diperkuat oleh kinerja keuangan terbaru perusahaan. Dalam laporan kuartal kedua yang dirilis pada akhir Juli, laba per saham Agnico Eagle tercatat sekitar 8,25% di bawah estimasi konsensus.

Hasil tersebut membuat sentimen analis terhadap saham AEM tetap berhati-hati. Beberapa pekan setelah laporan Q2, salah satu analis terkemuka menurunkan rekomendasinya dari Strong Buy menjadi Hold. Penurunan peringkat tersebut dikaitkan dengan valuasi saham yang dinilai tinggi dibandingkan sektor pertambangan emas, sementara potensi kenaikan jangka pendek terhadap target harga saat itu dinilai terbatas.

Agnico Eagle juga mengumumkan bahwa perusahaan akan merilis laporan keuangan kuartal ketiga 2026 pada 28 Oktober. Namun, pengumuman jadwal tersebut tidak disertai panduan keuangan baru sehingga belum memberikan katalis tambahan bagi investor.

Saham AS Ikut Tertekan

Sentimen pasar yang lebih luas turut membebani saham Agnico Eagle. Indeks saham utama AS juga bergerak melemah dalam perdagangan pre-market.

S&P 500 turun sekitar 0,5%, Dow Jones Industrial Average melemah 0,6%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,9%. Pelemahan tersebut mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Saham perusahaan pertambangan emas lainnya juga menghadapi tekanan serupa karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga emas dan perubahan ekspektasi suku bunga.

Prospek Saham AEM

Penurunan saham Agnico Eagle hari ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor, mulai dari koreksi harga emas yang tajam, prospek kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih hawkish, hingga kekhawatiran terkait valuasi dan kinerja laba jangka pendek.

Meski demikian, fundamental jangka panjang Agnico Eagle masih didukung oleh generasi arus kas bebas yang kuat serta basis cadangan yang terus berkembang. Namun, untuk perdagangan jangka pendek, tekanan dari kebijakan moneter AS dan volatilitas harga emas menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen terhadap AEM.

Dengan laporan keuangan Q3 2026 yang dijadwalkan pada 28 Oktober, investor selanjutnya akan mencermati kinerja operasional, arus kas, serta panduan perusahaan untuk melihat apakah fundamental Agnico Eagle mampu meredam tekanan dari pelemahan harga emas.


Share:

Emas Asia Melemah



Harga Emas Berjangka Melemah di Sesi Asia, Dolar AS Masih Bertahan Kuat

Harga emas berjangka bergerak lebih rendah pada perdagangan Asia, Jumat, seiring pelaku pasar terus mencermati pergerakan dolar AS dan perkembangan ekonomi global.

Di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, kontrak emas berjangka pengiriman Desember diperdagangkan di level US$4.294,95 per troy ons pada saat penulisan, turun 0,07%. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah intraday sebelum kembali bergerak stabil.

Secara teknikal, harga emas diperkirakan memiliki area support di US$4.279,15 per troy ons. Sementara itu, level resistance terdekat berada di US$4.422,10 per troy ons yang berpotensi menjadi penghalang bagi kenaikan harga dalam jangka pendek.

Di pasar mata uang, Indeks Dolar AS Berjangka yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah 0,04% ke level 100,98. Pelemahan dolar biasanya memberikan dukungan bagi harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak berjangka pengiriman Desember turun 0,31% menjadi US$63,80 per troy ons. Di sisi lain, kontrak tembaga berjangka pengiriman Desember melemah 0,36% ke level US$6,75 per pon.

Pergerakan harga emas selanjutnya diperkirakan akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta berbagai data ekonomi yang dapat memberikan petunjuk mengenai prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve.


Share:

Emas Naik Tipis


Harga Emas Naik Tipis di Perdagangan Asia, Didorong Pelemahan Dolar AS

Harga emas berjangka menguat tipis pada perdagangan sesi Asia, Kamis, seiring pergerakan dolar AS yang cenderung melemah di pasar global.

Berdasarkan data perdagangan di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, kontrak emas berjangka untuk pengiriman Desember diperdagangkan di level US$4.324,40 per troy ons, naik 0,14% pada saat penulisan.

Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi intraday dan masih mempertahankan tren positif. Secara teknikal, logam mulia ini diperkirakan memiliki area support di US$4.308,35 per troy ons, sementara level resistance berada di US$4.439,80 per troy ons.

Di sisi lain, Indeks Dolar AS Berjangka yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat relatif stabil di level US$100,81.

Pergerakan dolar yang cenderung melemah umumnya memberikan dukungan bagi harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, komoditas logam lainnya bergerak melemah. Kontrak perak berjangka untuk pengiriman Desember turun 0,53% ke level US$64,62 per troy ons. Adapun kontrak tembaga berjangka untuk pengiriman Desember terkoreksi 0,42% dan diperdagangkan pada US$6,76 per pon.


Share:

Akuisisi Tembaga Emas


Blue Moon Metals Inc. mengumumkan telah menandatangani perjanjian definitif untuk mengakuisisi 100% kepemilikan Deposit Tembaga-Emas Turner yang berlokasi di O’Brien, Oregon, dari Gold Coast Mining Inc. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar US$38,7 juta, menandai langkah strategis perusahaan untuk memperkuat portofolio aset logam dasar dan logam mulia di Amerika Utara.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, nilai akuisisi terdiri atas pembayaran tunai sebesar US$4,7 juta, penerbitan saham Blue Moon senilai US$27 juta, serta pembayaran berbasis pencapaian (milestone) hingga US$7 juta yang terkait dengan proses perizinan dan produksi di masa mendatang.

Deposit Turner merupakan tambang vulkanik massive sulphide (VMS) yang pernah berproduksi. Properti tersebut mencakup tiga klaim pertambangan berpaten seluas sekitar 60 acre, lahan pribadi seluas 574 acre yang berdekatan, serta 15 klaim pertambangan lode yang tidak berpaten. Aset ini juga memiliki kewajiban royalti net smelter return (NSR) sebesar 1,5%.

Menurut laporan historis NI 43-101 tertanggal 17 Mei 2010, Deposit Turner memiliki sumber daya mineral terindikasi sebesar 2,447 juta ton dengan kadar rata-rata 1,25% tembaga, 2,79 gram per ton emas, 2,65% seng, 9,64 gram per ton perak, serta 0,05% kobalt.

Meski demikian, Blue Moon menegaskan bahwa estimasi sumber daya tersebut masih bersifat historis dan belum diverifikasi oleh tenaga ahli berkualifikasi perusahaan. Oleh karena itu, data tersebut belum dapat dianggap sebagai estimasi sumber daya mineral terkini.

Ke depan, Blue Moon berencana mengevaluasi potensi sinergi antara Deposit Turner dan proyek Blue Moon Mine yang berlokasi di dekat Mariposa, California. Perusahaan menargetkan penyusunan Penilaian Ekonomi Awal (Preliminary Economic Assessment/PEA) pada akhir 2027 yang akan mengintegrasikan kedua aset tersebut dengan rencana pembangunan fasilitas pengolahan berkapasitas 1.800 ton per hari di kompleks Springer, Nevada.

Untuk mendukung pengembangan proyek, proses perizinan pengeboran eksplorasi dan pembangunan tambang bawah tanah di Turner diperkirakan membutuhkan waktu antara 12 hingga 18 bulan. Blue Moon juga menilai material dari kedua proyek berpotensi diangkut melalui jaringan kereta api, meskipun studi transportasi lebih lanjut masih diperlukan.

Penyelesaian transaksi ditargetkan berlangsung pada November 2026, dengan syarat memperoleh persetujuan dari TSX Venture Exchange. Sebagai bagian dari kesepakatan, Blue Moon telah membayarkan uang muka sebesar US$500.000.

Selain itu, perusahaan akan menerbitkan sebanyak 4.778.761 saham biasa yang akan dibagikan dalam empat tahap yang sama selama 12 bulan setelah transaksi resmi ditutup.

Dalam pengumuman yang sama, Blue Moon juga memberikan insentif berbasis ekuitas kepada konsultan, karyawan, pejabat, dan direksi perusahaan. Insentif tersebut meliputi 50.000 opsi saham dengan harga pelaksanaan C$8,10 per saham, 993.146 unit saham terbatas, serta 268.586 unit saham tangguhan sebagai bagian dari program kompensasi perusahaan. 

Share:

i-80 Gold Bor Mineral


i-80 Gold Ungkap Hasil Pengeboran Mineral Point

NEVADA – i-80 Gold Corp. melaporkan hasil awal program pengeboran infill 2026 di proyek tambang terbuka dan heap leach Mineral Point, Nevada, Amerika Serikat. Hasil pengeboran tersebut menunjukkan adanya mineralisasi emas dan perak yang menjanjikan di sejumlah area proyek.

Perusahaan melaporkan hasil dari 35 lubang bor awal. Salah satu hasil signifikan berasal dari lubang iMP26-07, yang mencatat intersepsi sebesar 1,33 gram per ton (g/t) emas dan 39,2 g/t perak sepanjang 225,6 meter.

Sementara itu, lubang iMP26-23 menghasilkan intersepsi 1,70 g/t emas dan 61,5 g/t perak sepanjang 170,7 meter.

19 Lubang Step-Out Temukan Mineralisasi

Dari 35 lubang bor yang telah dilaporkan, sebanyak 19 lubang merupakan pengeboran step-out yang dilakukan di luar batas sumber daya mineral yang telah diketahui sebelumnya.

Seluruh 19 lubang step-out tersebut berhasil menemukan mineralisasi. Lebih dari separuhnya bahkan mencatat intersepsi emas dan perak dengan ketebalan lebih dari 100 meter.

Sebanyak 15 lubang step-out dibor di sebelah timur deposit yang telah diketahui, tiga lubang berada di sebelah utara, dan satu lubang berada di sebelah barat. Hasil ini memberikan tambahan data mengenai penyebaran mineralisasi di sekitar deposit Mineral Point.

Potensi Proyek Mineral Point

Proyek Mineral Point berada di properti Ruby Hill milik i-80 Gold, yang terletak di sepanjang tren emas Battle Mountain-Eureka di Nevada.

Saat ini, proyek tersebut membentang sekitar 10.000 kaki sepanjang struktur antiklin utama. Mineralisasi diperkirakan memiliki lebar sekitar 3.000 kaki dan ketebalan hingga 900 kaki.

Dalam penilaian ekonomi awal yang diterbitkan pada Februari 2025, proyek Mineral Point diproyeksikan memiliki umur tambang 17 tahun dengan produksi tahunan sekitar 280.000 ons setara emas setelah mencapai tingkat produksi yang ditargetkan.

Penilaian tersebut menggunakan asumsi harga dasar sebesar US$2.175 per ons untuk emas dan US$26 per ons untuk perak.

Pengeboran Berlanjut hingga 2027

Program pengeboran i-80 Gold untuk periode 2026/2027 menargetkan sekitar 130.000 meter pengeboran dalam 300 lubang.

Hingga akhir Agustus, perusahaan telah menyelesaikan sekitar 30.000 meter pengeboran inti dan reverse circulation (RC) dengan menggunakan hingga tujuh rig pengeboran.

i-80 Gold memperkirakan belanja eksplorasi untuk Mineral Point selama 2026/2027 berada di kisaran US$40 juta hingga US$45 juta. Perusahaan juga mengalokasikan sekitar US$5 juta untuk kegiatan teknis dan tahap awal pra-perizinan.

Pendanaan untuk kegiatan tersebut diharapkan berasal dari hasil pembiayaan royalti dengan Franco-Nevada Corporation yang telah diselesaikan pada Maret 2026.

Hasil dari keseluruhan program pengeboran ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam penyusunan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study/PFS) Mineral Point yang ditargetkan selesai sekitar pertengahan 2027.

Share: