Kumpulan Broker Internasional, Broker dengan Cashback Rebate 90% dari komisi kami sebagai IB, 90% Rebate terbesar di Indonesia


Solstice Akuisisi Leckie


Solstice Gold Selesaikan Akuisisi Leckie Gold Zone di Ontario

VANCOUVER, British Columbia — Solstice Gold Corp. mengumumkan telah menyelesaikan akuisisi dua klaim tambang yang telah dipatenkan dengan total luas 24 hektare di Leckie Gold Zone, Abitibi Subprovince, Ontario.

Akuisisi tersebut mencakup poros tambang sedalam 160 meter, fasilitas pengembangan bawah tanah pada lima level, serta lebih dari 23.000 meter pengeboran historis.

Selain itu, Solstice Gold juga mengakuisisi 43 klaim pertambangan yang belum dipatenkan dengan total luas sekitar 9,4 kilometer persegi. Area tersebut berdekatan dengan proyek Red Cedar Discovery milik perusahaan dan berjarak sekitar 260 meter dari klaim Leckie Gold Zone yang telah dipatenkan.

Hasil Pengeboran Historis Leckie Gold Zone

Data pengeboran historis di Leckie Gold Zone menunjukkan sejumlah hasil kadar emas yang menarik. Beberapa intersep yang tercatat antara lain:

  • 4,85 gram per ton emas sepanjang 17,10 meter.

  • 7,24 gram per ton emas sepanjang 10,45 meter.

  • 9,10 gram per ton emas sepanjang 5,24 meter.

  • 4,35 gram per ton emas sepanjang 10,30 meter.

Dari 133 lubang bor historis yang telah diuji kadarnya, sebanyak 62% menghasilkan intersep minimal 3,0 gram per ton emas sepanjang sedikitnya 1,5 meter.

Namun, Solstice Gold menegaskan bahwa data eksplorasi historis tersebut berasal dari pekerjaan sebelumnya yang dilakukan pihak ketiga tanpa keterlibatan perusahaan. Hingga saat ini, belum ada tenaga ahli independen yang melakukan pekerjaan yang cukup untuk memverifikasi informasi tersebut. Oleh karena itu, perusahaan belum dapat menjamin keakuratan data historis tersebut.

Nilai Transaksi Akuisisi

Berdasarkan perjanjian pembelian tertanggal 22 Agustus 2026, Solstice Gold membayar US$600.000, menerbitkan 2 juta saham biasa, serta mengalihkan 11 klaim pertambangan yang belum dipatenkan kepada pihak-pihak yang tidak terafiliasi.

Saham biasa yang diterbitkan dalam transaksi tersebut dikenakan periode penahanan selama 12 bulan, serta periode penahanan wajib selama empat bulan satu hari sesuai dengan ketentuan hukum sekuritas Kanada.

Perluas Strathy Gold Project

Akuisisi Leckie Gold Zone memperluas Strathy Gold Project milik Solstice Gold menjadi sekitar 57 kilometer persegi di Temagami Greenstone Belt, Ontario.

Perusahaan berencana memulai kegiatan eksplorasi permukaan, termasuk pemetaan serta pencatatan ulang inti bor historis. Kegiatan tersebut akan menjadi dasar untuk program pengeboran lanjutan yang dijadwalkan dimulai pada kuartal IV 2026.

Dengan tambahan aset Leckie Gold Zone dan hasil pengeboran historis yang menjanjikan, Solstice Gold berharap dapat meningkatkan potensi eksplorasi di Strathy Gold Project sekaligus memperluas pemahaman mengenai mineralisasi emas di wilayah tersebut.

Share:

Oracle Percepat Tambang Emas


Oracle Power Selesaikan Keberatan Proyek Emas Australia

Oracle Power PLC mengumumkan bahwa seluruh keberatan terkait izin jalan angkut untuk Proyek Emas Northern Zone di Australia Barat telah diselesaikan. Penyelesaian tersebut membuka jalan bagi proses penerbitan izin pertambangan final untuk proyek tersebut.

Perusahaan menyatakan bahwa Miscellaneous Licences L25/75 dan L25/77 kini dapat melanjutkan ke tahap pemberian izin setelah seluruh keberatan yang tersisa dicabut.

Kedua izin tersebut akan memberikan akses ke lokasi proyek sekaligus menyediakan jalur pengangkutan bijih menuju jalan umum dan jalan raya. Proyek Northern Zone berlokasi sekitar 25 kilometer di sebelah timur Kalgoorlie, Australia Barat.

Oracle Power juga menyatakan tetap sesuai jadwal untuk mengajukan Mine Development and Closure Proposal (MDCP) kepada Department of Mines, Petroleum and Exploration pada September 2026.

MDCP merupakan persetujuan operasional terakhir yang diperlukan sebelum kegiatan pertambangan dapat dimulai.

Keberatan Proyek Emas Telah Diselesaikan

CEO Oracle Power, Naheed Memon, mengatakan pencabutan keberatan terakhir menjadi perkembangan penting bagi proyek tersebut.

“Pencabutan keberatan terakhir atas proyek ini merupakan hasil yang sangat penting dan krusial, karena menciptakan koridor angkut bijih menuju jalan utama yang menghubungkan ke fasilitas pemrosesan pihak ketiga di kawasan tersebut,” kata Memon.

Miscellaneous Licences memberikan kewenangan untuk membangun dan menggunakan infrastruktur di luar batas tenemen eksplorasi atau pertambangan berdasarkan Mining Act 1978 (WA), termasuk jalan dan koridor akses.

Sementara itu, Mining Lease M25/389 mencakup area pit Northern Zone. Namun, izin tersebut tidak mencakup pergerakan bijih ke luar batas area pertambangan.

Oracle Power sebelumnya telah mengajukan Native Vegetation Clearing Permit kepada Department of Water and Environmental Regulation pada 28 Agustus 2026.

Proyek Northern Zone Dimiliki Riversgold dan Oracle Power

Northern Zone merupakan proyek tambang emas open pit yang direncanakan di Australia Barat. Proyek ini dimiliki 80% oleh Riversgold dan 20% oleh Oracle Power.

Pendanaan proyek akan dilakukan oleh Mega Resources berdasarkan Mining and Co-operation Agreement dengan skema 50/50 yang diumumkan pada September 2025.

Riversgold memperoleh Mining Lease untuk lokasi Northern Zone pada Juli 2026 dengan masa berlaku selama 21 tahun, hingga Juli 2047.

Dengan seluruh keberatan terkait jalur angkut telah diselesaikan, Oracle Power kini berfokus pada tahapan perizinan berikutnya. Pengajuan MDCP menjadi salah satu langkah penting sebelum proyek emas Northern Zone dapat memasuki tahap operasional.

Share:

UBS Ramal Emas

 

UBS Peringatkan Kenaikan Suku Bunga September Bisa Tekan Harga Emas

UBS memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September berpotensi memicu penurunan jangka pendek pada harga emas. Meski demikian, bank tersebut menilai koreksi harga emas kemungkinan hanya bersifat sementara dan tidak akan mengubah tren pemulihan yang lebih luas.

Strategi UBS, Joni Teves, mengatakan ketahanan harga emas setelah rilis data ketenagakerjaan terbaru bukan berarti kebijakan suku bunga The Fed sudah kehilangan pengaruh terhadap pasar. Menurutnya, sebagian besar ekspektasi pengetatan kebijakan moneter telah diperhitungkan oleh pasar.

"Kami memperkirakan kenaikan suku bunga pada September akan memicu koreksi sesaat, namun tidak akan menggagalkan pemulihan yang lebih luas," tulis Teves.

Ia menambahkan bahwa keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga justru berpotensi memberikan dorongan yang lebih kuat bagi harga emas.

Kenaikan Suku Bunga Berpotensi Tekan Emas

Jika The Fed menaikkan suku bunga, harga emas kemungkinan akan mengalami tekanan awal akibat kenaikan imbal hasil riil dan penguatan dolar AS. Kondisi tersebut biasanya mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Namun, UBS memperkirakan penurunan harga emas dapat dibatasi oleh sejumlah faktor. Permintaan fisik musiman, pembelian investor institusional, serta permintaan dari sektor resmi diperkirakan kembali meningkat ketika harga emas berada pada level yang lebih rendah.

Sebaliknya, jika The Fed tidak menaikkan suku bunga, investor kemungkinan akan kembali memburu emas dan mendorong harganya ke level yang lebih tinggi.

Menurut Teves, potensi tersebut akan semakin besar jika keputusan mempertahankan suku bunga kembali memunculkan kekhawatiran mengenai independensi The Fed.

Prospek Harga Emas Masih Positif

Teves menilai risiko terhadap harga emas memang masih bersifat dua arah, tetapi saat ini cenderung mengarah ke sisi positif.

"Emas mungkin masih rentan terhadap kejutan hawkish, tetapi tampaknya semakin sensitif terhadap katalis positif," tulisnya.

UBS juga mencatat bahwa pembelian emas oleh bank sentral masih berlanjut. China dilaporkan menambah sekitar 20 ton emas pada Agustus, sehingga total pembelian sepanjang tahun ini mencapai sekitar 80 ton. Menurut UBS, laju pembelian tersebut merupakan yang terkuat sejak akhir 2023.

Selain pembelian bank sentral, sejumlah faktor lain turut mendukung prospek harga emas. UBS menyoroti pemulihan bertahap arus dana ke ETF emas, meningkatnya aktivitas perdagangan emas di China, serta semakin dekatnya musim permintaan emas di India.

Dengan berbagai faktor tersebut, UBS menilai potensi imbal hasil harga emas hingga akhir tahun masih cenderung positif, meskipun pasar tetap perlu mewaspadai dampak kebijakan suku bunga The Fed terhadap pergerakan emas dalam jangka pendek.

Share:

Emas Tertekan Minyak


Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Bertahan di Bawah US$4.400 di Tengah Lonjakan Minyak dan Imbal Hasil Obligasi

  • XAU/USD masih bergerak dalam kisaran konsolidasi antara US$4.350 hingga US$4.440.

  • Kenaikan harga minyak dan lonjakan imbal hasil obligasi global membatasi daya tarik emas.

  • Tren jangka pendek emas tetap cenderung bearish, dengan area support US$4.300 menjadi level krusial yang perlu diperhatikan.

Harga emas (XAU/USD) melemah pada perdagangan Kamis setelah gagal mempertahankan momentum di atas level psikologis US$4.400. Kenaikan harga minyak yang mendekati US$100 per barel serta reli imbal hasil obligasi global menjelang keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama dunia menjadi faktor utama yang menekan logam mulia.

Meski demikian, pelemahan Dolar AS masih memberikan dukungan bagi emas sehingga pergerakannya tetap berada dalam rentang perdagangan 10 hari terakhir. Analis TD Securities menilai masih terdapat peluang kenaikan harga emas dalam jangka menengah. Menurut mereka, prospek logam mulia tetap didukung oleh tren pelemahan dolar AS, tingginya pembelian emas oleh bank sentral, serta meningkatnya arus masuk ke ETF berbasis emas.

Sementara itu, analis TH Securities berpendapat bahwa sekalipun Federal Reserve mengadopsi kebijakan yang lebih hawkish, dampaknya terhadap emas kemungkinan hanya akan menunda potensi kenaikan berikutnya, bukan memicu penurunan signifikan pada harga emas maupun sektor logam mulia secara keseluruhan.

Analisis Teknis XAU/USD: Support US$4.300 Masih Menjadi Penentu

Dari sisi teknikal, XAU/USD masih mengonsolidasikan pelemahan terbaru tepat di bawah Simple Moving Average (SMA) 200 hari yang berada di sekitar US$4.538. Kondisi ini menunjukkan bahwa prospek jangka pendek masih terbatas dengan kecenderungan netral hingga bearish.

Indikator Relative Strength Index (RSI) periode 14 berada di sekitar level 50, mencerminkan minimnya momentum arah yang kuat. Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di wilayah negatif dengan histogram yang tertekan, mengindikasikan tekanan jual belum sepenuhnya mereda.

Pada sisi atas, pergerakan harga masih menghadapi hambatan kuat di area US$4.440, yang merupakan puncak perdagangan dalam dua hari terakhir. Jika berhasil ditembus, target berikutnya berada di sekitar US$4.500 sebelum menguji SMA 200 hari di dekat US$4.538.

Sebaliknya, tekanan jual berpotensi meningkat apabila harga kembali turun ke area support mingguan di kisaran US$4.300. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka jalan menuju area US$4.311 hingga US$4.282, yang merupakan level terendah pada 14 Agustus dan 2 September. Area ini juga berfungsi sebagai neckline dari pola bearish Head and Shoulders (H&S), sehingga menjadi zona penting yang menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.

Share:

Emas Rebound, Bearish


Harga Emas Rebound ke US$4.400, Namun Tren Bearish XAU/USD Masih Dominan

Harga emas (XAU/USD) berhasil memangkas kerugian pada perdagangan Rabu dan kembali bergerak ke area US$4.400 pada sesi Eropa. Pemulihan ini terjadi setelah logam mulia tersebut menyentuh level terendah harian di US$4.345 pada Selasa, didukung oleh melemahnya Dolar Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, prospek jangka pendek emas masih cenderung bearish setelah kehilangan lebih dari US$100 dalam tiga sesi perdagangan terakhir. Pelemahan Dolar AS hanya memberikan ruang pemulihan terbatas, sementara pelaku pasar tetap fokus pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada Jumat mendatang.

Investor saat ini menanti data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk mendapatkan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September, yang dapat mendukung penguatan dolar dan menekan harga emas.

Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi logam mulia.

Analisis Teknikal XAU/USD

Secara teknikal, harga emas memang telah kembali ke area US$4.400, tetapi pergerakan tersebut masih berada dalam rentang perdagangan hari sebelumnya. Struktur bearish yang lebih luas juga belum berubah.

XAU/USD masih bergerak di bawah indikator Simple Moving Average (SMA) 200 hari, sementara pola Head and Shoulders (H&S) bearish masih tetap valid. Pola ini mengindikasikan risiko penurunan lanjutan apabila area support penting berhasil ditembus.

Indikator momentum juga belum menunjukkan sinyal penguatan yang meyakinkan. Relative Strength Index (RSI) bergerak datar di sekitar level 50, sedangkan indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di wilayah negatif, menandakan momentum bullish masih terbatas.

Level Support dan Resistance Emas

Level terendah Selasa di kisaran US$4.345 untuk sementara berhasil menahan tekanan jual. Namun, fokus pasar tetap tertuju pada area neckline pola Head and Shoulders yang berada di rentang US$4.311 hingga US$4.282.

Jika harga emas menembus area tersebut, tekanan bearish berpotensi meningkat dan membuka peluang menuju support berikutnya di sekitar US$4.223, yang merupakan level terendah pada 6 Agustus.

Di sisi lain, jika pemulihan berlanjut, resistance terdekat berada di US$4.443, yang merupakan puncak perdagangan Selasa. Penembusan di atas level tersebut dapat membuka jalan menuju area US$4.500, sebelum menghadapi hambatan kuat pada SMA 200 hari di sekitar US$4.537.

Dengan demikian, meskipun harga emas berhasil rebound ke area US$4.400, tren bearish XAU/USD masih mendominasi selama harga tetap berada di bawah area resistance utama dan SMA 200 hari.

Share:

HRTA Rilis Emas Anabul


Perluas Portofolio, HRTA Rilis Koleksi Emas Bertema Anabul

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) kembali memperluas portofolio produk emas dengan meluncurkan koleksi terbaru HRTA Gold Anabul. Produk ini menyasar komunitas pemilik hewan peliharaan atau pet lovers yang ingin mengabadikan kedekatan bersama hewan kesayangan melalui produk emas.

HRTA Gold memperkenalkan enam koleksi terbaru dengan tema “Little Paw, Big Love” dalam ajang Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, pada Sabtu (5/9/2026).

Direktur Utama Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto, mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas portofolio produk EMASKU sekaligus menyesuaikan produk dengan perkembangan gaya hidup masyarakat.

“Kami melihat bahwa konsumen saat ini semakin mencari produk yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat merepresentasikan karakter, pengalaman, dan momen personal mereka,” ujar Sandra dalam keterangan tertulis yang dikutip Kontan, Selasa (8/9/2026).

Menurut Sandra, pengembangan koleksi HRTA Gold Anabul diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar perusahaan sekaligus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan HRTA hingga akhir 2026.

Terinspirasi dari Hewan Peliharaan

Koleksi terbaru HRTA Gold Anabul terinspirasi dari kedekatan karyawan HRTA dengan enam hewan peliharaan yang dirawat di lingkungan perusahaan.

Seluruh koleksi tersebut hadir dalam desain berbentuk paw yang dibuat dari emas murni. Desain ini merepresentasikan kasih sayang serta hubungan erat antara hewan peliharaan dan pemiliknya.

Enam anabul yang menjadi inspirasi koleksi terbaru HRTA Gold terdiri dari Miso, kucing Ragdoll; Kimi, kucing oyen; Jose, anjing Bichon; Elio, anjing Golden Retriever; serta Whisper dan Ponny, anjing Poodle.

Peluncuran koleksi “Little Paw, Big Love” sekaligus melanjutkan koleksi HRTA Gold Anabul sebelumnya yang mengusung tema “Wujud Cinta Abadi”.

Melalui koleksi terbaru ini, HRTA Gold ingin menghadirkan produk emas yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga dapat menjadi simbol untuk mengabadikan berbagai momen emosional bersama hewan peliharaan.

Gandeng Anabul Influencer

Selain meluncurkan koleksi baru, HRTA Gold turut memperkenalkan Kiwi, British Shorthair, dan Soya, British Longhair, sebagai brand ambassador. Keduanya merupakan anabul influencer yang diharapkan dapat memperkuat kedekatan merek dengan komunitas pet lovers dan pawrents.

Pemilik Kiwi dan Soya, Sindy, mengatakan kehadiran kedua anabul tersebut menjadi representasi hubungan emosional antara pemilik dan hewan peliharaan.

“Buat saya sendiri, Kiwi dan Soya lebih dari sekadar peliharaan. Mereka adalah keluarga,” kata Sindy.

Melalui pengembangan produk berbasis gaya hidup seperti HRTA Gold Anabul, HRTA berupaya memperluas segmen konsumennya, tidak hanya terbatas pada pembeli emas yang berorientasi pada investasi.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan untuk memperkuat portofolio produk emas sekaligus meningkatkan relevansi produk dengan kebutuhan dan gaya hidup konsumen yang terus berkembang.

Share: