Harga emas (XAU/USD) melanjutkan pemulihan dari level terendah dua bulan di sekitar US$4.100 per troy ons dan kembali menembus US$4.150 pada perdagangan Selasa di sesi Eropa. Penguatan ini terjadi setelah dolar AS (USD) mengambil jeda dari reli tajamnya dalam beberapa sesi terakhir.
Pelemahan sementara dolar AS memberikan dukungan bagi harga emas. Selain itu, berkurangnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober turut membantu emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, prospek fundamental masih menunjukkan risiko penurunan bagi emas. Karena itu, investor perlu berhati-hati sebelum mengantisipasi pemulihan yang lebih kuat.
Prospek Teknikal Harga Emas
Setelah mengalami penurunan dari level tertinggi bulanan Agustus, pergerakan emas yang cenderung bergerak dalam kisaran masih menunjukkan pola konsolidasi bearish.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di bawah garis nol. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 38, yang mencerminkan momentum bearish masih cukup kuat meski belum menunjukkan kondisi oversold yang ekstrem.
Harga emas perlu menembus secara meyakinkan level Fibonacci retracement 78,6% di US$4.098 untuk membuka peluang penurunan lebih lanjut. Jika level tersebut ditembus, harga berpotensi bergerak menuju area US$3.936, yang menjadi salah satu level dasar struktural dari siklus sebelumnya.
Di sisi atas, resistance awal berada pada Fibonacci retracement 61,8% di US$4.226. Resistance berikutnya berada di sekitar US$4.254, yang merupakan SMA 100 periode pada grafik 4 jam.
Jika emas mampu menembus area tersebut, perhatian berikutnya tertuju pada level US$4.316, kemudian US$4.406 dan US$4.517. Sementara itu, swing high yang lebih jauh berada di sekitar US$4.696.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan inflasi mulai melambat, sementara kondisi pasar tenaga kerja juga menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Di sisi lain, harga minyak mentah bertahan di dekat level terendah empat pekan.
Kuatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah serta keputusan negara-negara G7 untuk melepas cadangan minyak darurat membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasokan. Kondisi tersebut mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 85% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan biaya pinjaman sebelum akhir tahun.
Payrolls Lemah Belum Mengubah Ekspektasi Fed
Ekonom Deutsche Bank menilai data payrolls AS yang lebih lemah belum cukup untuk mengubah gambaran pasar tenaga kerja secara fundamental. Menurut mereka, kondisi pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih relatif tangguh, terutama setelah mempertimbangkan data ADP dan klaim pengangguran terbaru.
Deutsche Bank masih memperkirakan dua kenaikan suku bunga The Fed masing-masing sebesar 25 basis poin dalam beberapa kuartal mendatang.
Dari sisi pasar, Deutsche Bank mencatat ekspektasi kenaikan suku bunga sekitar 86 basis poin dalam 12 bulan ke depan. Angka tersebut turun dari sekitar 100 basis poin pada awal pekan sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan sekitar 70 basis poin segera setelah data payrolls dirilis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed memang telah berkurang, tetapi pasar masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Risiko Geopolitik Jadi Perhatian
Ketidakpastian geopolitik dan tingginya imbal hasil obligasi AS juga berpotensi membatasi pelemahan dolar dari level tertinggi sejak April 2025 yang dicapai pada Senin.
Perkembangan terbaru di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengatakan telah melakukan tiga operasi militer menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone terhadap sejumlah target di Arab Saudi.
Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman mengatakan telah menghancurkan platform peluncuran rudal balistik di Sanaa serta fasilitas penyimpanan di wilayah Saada.
Risiko geopolitik semakin meningkat setelah laporan media menyebut Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran, baik dengan koordinasi AS maupun secara independen. Jika terjadi, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan memberikan dampak terhadap pasar energi serta aset safe haven.
Sementara itu, tekanan fiskal yang semakin dalam di Prancis memicu aksi jual di pasar obligasi. Kondisi tersebut membantu menjaga imbal hasil Treasury AS tetap tinggi dan memberikan dukungan bagi dolar AS.
Dengan kombinasi tersebut, tekanan terhadap harga emas masih berpotensi berlanjut. Namun, trader bearish kemungkinan akan menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed sebelum membuka posisi baru.
Risalah FOMC Jadi Fokus
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada risalah rapat FOMC yang dijadwalkan terbit pada Rabu. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed serta perkembangan geopolitik juga berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan harga emas.
Jika tekanan terhadap emas berlanjut, penembusan di bawah US$4.098 dapat menjadi sinyal penting bagi kelanjutan tren bearish XAU/USD. Sebaliknya, kemampuan harga untuk kembali menembus US$4.226 dan US$4.254 dapat membuka ruang bagi pemulihan menuju level resistance berikutnya.
Untuk saat ini, prospek fundamental masih menunjukkan bahwa risiko penurunan emas lebih besar, meskipun aksi profit-taking pada dolar AS memberikan ruang bagi pemulihan harga dalam jangka pendek.